Menasbihkan Cinta-Mu *


Oleh: Kurnia Hidayati

[1]
menasbihkan cintaMu, seperti mengeja denyar rembulan saban malam purnama. Kau titipkan detak nafas ini pada setiap detik ketika jarum jam kian kuncup satu persatu, meninggalkan mekar usia
[2]
Kau tak pernah sekali pun beranjak, meninggalkan masai tubuhku bahkan ketika aku sibuk. alpa mengingat keberadaanMu
padahal Kau selalu ada dalam setiap nadi yang berdenyut, alur aliran darah, juga pada cabang di syaraf otak. tempat segala pemikiran berpinak.

[3]
Ya, Rabb. Ampunilah segala dosa-dosaku. Syukur kugemakan di antara lorong-lorong hati yang usang.  Kusadari lagi cintaMu selalu ada bahkan ketika aku tak memintanya...

5 Agt 2012

*puisi yang memenangkan lomba puisi Ramadhan

posted under | 1 Comments

Puisi Jadul :Pengais Terang


Pengais Terang (Tema: Bertahannya hidup seseorang)

Oleh: Kurnia Hidayati

1.
Tiba-tiba aku ingin menjadi kunang-kunang. Yang lepas dari toples kaca lantas hinggap di pundakmu. Agar sedikit saja aku mampu, memberi sedikit cahaya
Pada malam-malammu yang membuta

Ah, apa yang kau cari? Duhai pengais terang
Kaleng bekas sarden atau bungkus nasi yang malang
Lalu baju-baju yang dibiarkan usang
Di mainkan angin—membikin tubuhmu menggelinjang?


2.
Apa yang tertinggal di pendar lampu taman?
Siluet tubuh itu mendadak menampilkan liuk tanpa keindahan
Kau masih saja berjalan, tanpa alpa menghitung imajinasi warna
Mengenai nasi, mengenai jus warna merah muda
Namun, tak pernah nyata

Tubuhmu benar-benar hampir rubuh
Dihempas peradaban, diguyur angan-angan yang bisa saja menderas tiba-tiba. Membawamu hanyut, menelan tubuhmu yang susut.
Namun, kau tetap saja bertahan. Mengais-ngais terang.
Dari satu ruang ke ruang

mendadak aku bimbang. Harus menamaimu sebagai apa?

posted under | 1 Comments

Tadarus Kesunyian

oleh: Kurnia Hidayati

kecuali pundak memberat, elan kita masih cukup seperti nyala senter penuh baterai
:belum mau redup

langgar belum bosan melompong
kita datang sambil membopong
kitab langit
speaker menyuarakan nada-nada getar
sebelum bunyi ayat datang melambar
menggambar
langit ramadhan

malam melarut
mushaf berlembar belum mengkerut
kita berganti-ganti mengeja, huruf demi huruf
memahami harakat, tanda baca, kaidah-kaidah, juga mad-mad yang penuh
menghias kata-kataNya

tadarus sunyi ini
di langgar dingin
minim kabar
kita melansir ayat-ayat
lewat speaker yang kadang mati
namun, niat kita terus berkobar
mengejar
pahala dari
Tuhan yang Maha Sabar


Batang, 29 Juli

posted under | 0 Comments

Rumah Sakit

Oleh: Kurnia Hidayati

sengaja kubenci rumah sakit. Ibu bilang, rumah sakit adalah tempat jiwa-jiwa malang. Jika siang, orang-orang antri di muka loket menanti kepastian; bermata sayu, bermata nyalang. Ada yang cepat, ada yang tak kunjung datang.

sengaja kuhindari rumah sakit. Kata Ibu, rumah sakit adalah rumah bagi rasa nyeri yang buntu. Bukan hanya pada malam, pasien terbaring tidur merenda harap dipanjangkan umur. Atau obat-obatan yang dipaksa terulur ke dalam daya tubuh sarat mengendur.

sengaja kubuat jarak dengan rumah sakit. Pesan Ibu, jagalah kesehatan. Sebab harganya lebih mahal dari emas permata. Ibu, aku takut dengan bau desinfektan. Atau teriak sirine ambulan.

sengaja kutulis puisi tentang rumah sakit. Ibu berujar, jangan kau benci rumah sakit. Kau hanya perlu bersyukur dan menjaga setiap nikmat dariNya.

Batang, 21 Juli 2012

posted under | 0 Comments

Kepadamu Cinta

Kepadamu Cinta*
Oleh: Kurnia Hidayati

1/
hampir semua musim selalu tiba sebagai hujan yang beku di pelataran rumah hatimu. menawarkan pertemuan-perpisahan paling bisu. bahkan ketika aku sibuk berkata manis, perihal bulan, perihal langit malam. Berulang-ulang, meski kutahu langitmu mungkin tak selebam luka hatiku.

kepadamu, yang kunamai cinta. berulang kali kusesap fragmen-fragmen rindu hambar yang sengaja kutuang di cangkir kopiku saban pagi. biarlah kuteguk semuanya sendiri meski kehadiran ragamu tak lain hanya kelebat bayang yang datang bersama nyeri bertandang. mungkin sampai kau mau menjadi sebelah tanganku untuk menepuk cinta, agar tak sebelah saja.
2/
sampai pada tanda ketika kau bersikeras membuat jurang nganga, batas antara; aku, kau dan rasa.
Kepadamu, kau tetap kucintai sebagaimana kelam mencintai malam. walau kau selalu menutup pintu ketika aku datang mencoba memainkan ribuan peran yang senantiasa engkau dambakan.

Batang, 30 Juni 2012

*puisi yang masuk 5 besar dalam perlombaan menulis puisi dengan tema "Indah Cinta, Pedih Duka"
Selamat menikmati :)

posted under | 0 Comments

Puisi Potret Pendidikan di Indonesia: Surat Kepada Madrasah

Surat Kepada Madrasah*
Oleh: Kurnia Hidayati

Aku telah gagal mengekalkan segala lanskap yang pernah tertinggal, sebagai memori paling janggal
Mengenai madrasah yang ramai muridnya
I.
Bertahun lalu...
Pagi-pagi benar bu guru datang mengajar, menguar senyum
Meski atap kelas bisa rubuh kapan saja--membikin dentum

Apa yang tertinggal?
Derit pintu, genang air sisa hujan, bangku-meja lapuk
Langit-langitnya menatap sengit, menawarkan satu juta kemungkinan pahit
Namun anak-anak itu masih berapi asa.
Meronce butir ilmu dari bulir keringat bu guru
II.
Ah, betahun lalu.
Dan kini madrasah masih tetap begitu. Celaka, masa membikin tambah merana menyajikan perpisahan paling tiada. Atap telah benar-benar ambruk, tangis-ratap saling tubruk. Sebagai tanda kealpaan murid-murid untuk selamanya.
Sebab tak ada lagi yang sudi menjenguknya, untuk sekedar bertanya tentang kabar. Tentang bulir hujan yang kadang menjadikan ruang kelas sebagai rumah kedua, berlama-lama, sampai waktu dan udara menjemputnya. Mengajak pulang.

Maka semua ini kuriwayatkan saja, kutulis sebuah surat berisi pesan amarah juga kerinduan. Kepada petingi di mana uang dibawa lari, kepada bu guru yang dulu sering tergugu melihat murid-murid selalu menunggu. Lantas kutinggalkan surat yang telah jadi, di atas bangku kelas yang sunyi. Membiarkannya sendiri.

Dan entah, akan dibaca siapa.


*puisi ini kurang beruntung dan tidak lolos dalam suatu lomba. Silahkan dikritik dan dibantai.
:)
Daripada disimpan ntar busuk. Aku bagi-bagi saja puisi ini. Hehe
Selamat menikmati.

posted under | 2 Comments

Paragraf


Paragraf


Oleh: Kurnia Hidayati

Paragraf ini membawa kata-kata kita melayang tak mau berpijak.

Di langit-langit kita sibuk membilang lelah yang karib, sedang kantuk menggerayangi mata kita
sejak kemarin

ah, apa yang sebenarnya ingin kita tulis?
sedang huruf-huruf telah lam terperangkap
di koran-korang bekas, di dinding basah bekas hujan
juga di mata wanita
yang sering kita panggil ibu

bukankah kita memang selalu begini?

baris kata ini lama-lama akan membunu kita
berbelanja keluh, lantas disimpan di kantung mata kita

Sudahlah
kita akhiri saja
paragraf ini

Batang, 11 Juni 2012

posted under | 0 Comments

Perpus, Kampus, Tugas, Mesin Fotocopy


Perpus, Kampus, Tugas, Mesin Fotocopy

Oleh: Kurnia Hidayati
barangkali kita memang perlu menutup mulut
rapat
menyimpan segala : pekak telinga, riuh gaduh, rapat gerimis, menggedor atap
juga siluet kekalahan, yang diam-diam mau mengambil alih tempat kita berpijak


sebab petir memang selalu berlarian
di kepala kita
bahkan ketika hujan tak mau lagi
menebar basah di pelataran rumah tempat singgah
seribu keluh kesah


di langit-langit
di pintu berderit
telah terbaca tiga belas kisah pahit
mengenai tugas, mengenai uas
sedang pertemuan kita tak lain hanya perpus dan kampus
hingga terpaksa kita meninggalkan jejak tak mudah terhapus

sementara

ah, tibatiba aku rindu mesin fotocopy
sebab kuingin sekali saja, menggandakan titik kehangatan untuk siapa saja
jikalau udara memang tak mampu mengantarkan kidung keceriaan
yang kini masih tertinggal di curam kalbu paling nestapa

batang, 8 jun 2012

*Puisi tentang kegelisahan tugas yang deadlinenya mepet dengan jadwal uas

posted under | 0 Comments

Mencatat Perjalanan


Mencatat Perjalanan

Telah kita catat setiap perpindahan yang diriwayatkan angka-angka pada lembar-lembar almanak. Mengingkari ketergesaan menyelesaikan jalan cerita dari detik menuju detak paling mendebar. Pada jam dinding itu.

Sudah beberapa persinggahan kita ingat, dari jejak-jejak mencuat, menekan tanah-tanah basah selepas hujan. Sambil menyenandungkan jerit-jerit tertahan tanpa nada, kita sibuk membilang jumlah sepakat. Antara takdir dengan tafsir
di benak kita.

Tak perlu kita berebut bekal, sebab kita selalu kenyang mengucap doa-doa sakral.
Maka sebaiknya perjalanan ini tak kita hentikan begitu saja.
Kita akan terus melaju sampai babak final.
Meski kadang takdir juga waktu, memaksa kita mundur dahulu.

Batang, 1 Juni 2012

Inilah puisi yang coba saya tuliskan di hari ulang tahun saya ke-20 ini. Hmm, udah tua, ya.
Namun kembali lagi, hidup adalah sebuah perjalanan. Ingin atau tidak ingin kita catat. Semuanya telah menjadi cerita yang akan dibaca bersama-sama. Di akhirat nanti.
Menjadi saksi. :)

posted under | 0 Comments

Deras Hujan Ini


deras hujan ini mengambil alih tempat peluh kita
hingga kita tak perlu lagi mengingat, sedetik lalu kipaskipas masih setia dihidupkan
memanggili angin

deras hujan ini telah merapatkan jendela
tempias
membuat kita lekas
berlari menuju kamar yang lapang
sambil berharap suhu segera karib pada ruang
maka kita berdiam. Mengeja tanda, kapan hujan menggerimis?

Deras hujan ini, tibatiba ingin kutempatkan
ke dalam almari
ya, sebab aku selalu ingin memanggil hujan, mengajak tetabuhan
kala sepi

batang. 25.5.2012

posted under | 1 Comments

Di Antara Pijar Lampu Kutemui Kenang


1/
hanya pada kedua bola matamu, laut membadai lantas tenang, menyebarlah hawa dingin meremas tulang

ujung kukumu berkilat cahaya, serupa kunang yang nyala tanpa bayang dalam gelap menyergap
seperti kolong ranjang tanpa lampu
hitam hadir tiap waktu

2/

duhai temaram kian mencederai bohlam, memainkan warnawarna kuning. Sementara tang-ting gelas makin bebas membawa nyala ke batas hari di batas hati

apakah kau membisikkan senja?
Ketika pijar lampu benarbenar liar, melukai dada kita. Semakin dalam masa meruncingkan kenang.
Pijar lampu membawa bayangmu.


batang, 23 mei 2012

posted under | 0 Comments

Bukan Puisi

oleh: kurnia hidayati


aku tak mau menyebut kata ini puisi, ketika baris hujan benarbenar rapat menghalangi laju jalanmu. Mengantar debar, menjelma pagarpagar cadas. Mencegahmu dari kesunyian keras.
Ya, ini bukanlah puisi.

Barangkali, aku perlu mengkalkulasi setiap titik yang kemudian dengan cantik merupa pertemuan tinta dengan kertas, menjadi peristiwa tanpa batas
garis ke garis, lembar ke lembar sampai habis berbukubuku, setebal yang kau mau.
Lantas aku mau kau simpan semua ini dalam saku bajumu.

Simpan sajalah, ini bukan puisi.

Batang, 21.5.2012

posted under | 0 Comments

semusim teh, dering bel, dan hujan

: sobat SMA-ku

denting gelas membawa kita mengingat memori paling jelas
ketika pagipagi kita samasama terlambat, namun sengaja mengulur masa
untuk sejenak menyaksikan kepulan asap dari gelas teh habis mendidih airnya

:di kantin sekolah


dering bel, mungkin telah bosan menjadi penggoda
bagi telinga kita-- terlanjur abai
pada suara ruparupa
selain tingtang gelas bergulir, saling tubruk
saling seruduk

mengundang tawa juga senyum


ah, kawan
semusim teh
semusim dering bel di sudutsudut kelas
membawa kita kembali menjadi hujan di atas genting sekolah kita dulu
membawakan berlusin kenang.
Meski kadang mengering, lantas hilang.

Batang, 16 mei 2012

posted under | 0 Comments

Puisi Tentang Pelacur: Di Kelok Pantura, Di Bawah Atap

Di Kelok Pantura, Di Bawah Atap
a/
merapatlah ia di bilik temaram, tempat tinggal rasa gamang. sementara pengap kian menyergap, haus tenggorokan membikin radang
lagi

di kelok jalan pantura yang berlubang aspalnya
telah terbayar sudah segala lara
telah berakhir sudah segala rasa
bernama cinta. Di mana cinta menjadi omong kosong, dan rupiah mau tak mau harus diboyong.

di bawah atap bisu, seseorang datang untuk menunggu
di luar, malam merayap begitu cepat
hanya minyak wangi dan bibir memerah gincu
hadir menjadi teman teramat dekat
b/
Oh, apa yang digelayut gerimis beraroma sesal?
Sementara ia telah tumbuh menjadi kupu-kupu kebal
Menelurusi mimpi, caci tak terhitung lagi
Relakah ia dimaki?

Batang, 10 Februari 2012

Ini puisiku yang nasibnya kurang beruntung dalam suatu lomba. 
Silahkan dibantai.  
:D

posted under | 0 Comments

Kata-kata yang Kunamai Sajak

inilah kata-kata yang coba kutata lantas kuterbangkan menuju rumah hatimu
tempat segala kenang kualamatkan
bersama waktu pernah kita menghtung mundur
perih luka yang digoreskan masa dalam bilangan umur

maka terimalah!
terimalah, sayang. sajak-sajak yang dulu pernah hilang digerus arus
sungai deras. serupa doa-doa yang satu dua sering kita ucap lantas menuai amin di sisi-sisnya. di setiap sudutnya.
menunggui harap.

inilah kata-kata yang kunamai sajak lalu kuantarkan ke depan gerbang
terimalah! terimalah, sayang!

Batang, 24 April 2012

posted under | 0 Comments

Kelebat Kenang

kelebat kenang masih menumpuk menjemu di penjuru ruang
menawarkan lembar cerita paling merindu, untuk dibuka ditelusuri satu demi satu hingga segala pikir kembali hanyut tanpa takut

kenang itu masih utuh tanpa tersentuh
di penjuru ruang paling gamang. Antara tutup dan buka, habis atau tersisa
maka kenang itu masih diam, sesekali menggoda
sesiapa yang kebetulan melintas menyusuri batas

ah, kenang itu biar saja menumpuk
tunggu sampai lapuk

Batang, 26 April 2012

posted under | 0 Comments

Apapun Pilihanmu

kepada Alvian

tak perlulah kau bimbang
menimang-nimang mana yang seimbang
seperti neraca yang kehilangan titik ambang
setara

janganlah kau merupa pendulum
yang semakin goncang kemana
entah
meski dicium sepoi angin yang merautkan musim-musim
di dadamu

maka kupilih menunjuk saja
apapun pilihanmu

:)

Batang, 23 April 2012


posted under | 0 Comments

Musim

akhirnya musim menderaskan kesunyian
pada hujan berkepanjangan atau kemarau yang sebentar
sebentar membikin pasi wajah petani
yang sawahnya mati
suri

lalu cuaca memainkan tanda
tanda yang rupa merupa kuasa
Tuhan
menjajal
iman

akhirnya musim mencederai cuaca
juga

Batang, 23 April 2012

posted under | 0 Comments

Puisi-puisi tertinggal*

Hujan Kata-Kata

kata-katamu adalah hujan
yang turun dari larik sajak menuju sisi paling merindu
banya hal yang tak pernah bisa dibaca keadaan
kecuali penantian

bersama penantian aku menyimpan satudua rahasia
membikin kado paling indah
kertas berwarna, pita merah muda
atau permen jingga
untuk siapa saja

ah, dan katakatamu ingin menjadi gerimis saja
ujarmu
namun baitbait syair terlalu alpa
menyisipkan duapuluh sua
untuk kita

lantas
kau ingin menghujaniku dengan gerimis kata ini
kapan?

Batang, 23 April 2012


Bait



perjumpaan awan dan mentari telah diabadikan waktu yang nisbi
di sana
di atas itu
sampai aku tak tahu
bagaimana sebenarnya waktu menyederhanakan ketiadaan
menjadi bait-bait puisi yang tak pernah alpa bertandang kepadamu
dan aku
hanya bisa menunggu

Batang, 23  April 2012


Tertinggal


ada yang tertinggal
di sisa gaung derit pintu
yang keras daunnya

ada yang tersisa
di bekas basah secangkir kopi
yang kental cairannya

memang tak pernah ada yang sisa atau membikin sisa
yang tertinggal atau yang ditinggal
selain riwayat-riwayat hampa
sebab puisi
memang selalu muncul paling akhir
yang sendiri


Batang, 23 April 2012


*aduh, ini puisi yang amat sangat aneh. Sekedar buat memenuhi hasrat menulis. No edit! Mohon kritik dan saran buat puisi yang saya bikin spontan ini.

posted under | 0 Comments

Meringkas Malam

bagaimana lagi kita harus meringkas malam?
Sementara gelas sisa teh panas telah tandas tanpa jejak.
ada kalanya kita terus menerus membilang kantuk dan batuk di antara selasela waktu. membaginya pada gaung derit pintu, menuju getar paling mendebar. Di kabel lampu.

Akankah kita bisa meringkas semuanya?

posted under | 1 Comments

Tak Ada Lagi Yang Mampu Disimpan

memang tak ada lagi yang mampu disimpan udara dingin itu. selain ringkasan cerita yang tiba-tiba gemar bermalam di sudut daun-daun, juga di langit-langit.
sedangkan ruang kehampaan tak ubahnya hamparan bintang-bintang, meskipun terang ia tak pernah jelas. apa saja yang sebebnarnya tersimpan di sana.

mendadak aku ingin menjadi kertas yang dilipat membentuk pesawat
agar sebentar saja aku bisa bertandang mengisi puzzle hatimu yang hilang
lain halnya tempo hari, aku berambisi menjadi kelopak mawar di depan jendelamu
agar sedikit saja aku bisa melihat
wajah pertama setelah pagi
melepas mimpimu yang semalaman kau ikat

begitu, sayang
memang tak ada lagi yang mampu disimpan udara dingin itu.
tiba-tiba aku merasa puisi ini tak ada gunanya lagi.

Batang, 6 April 2012

posted under | 2 Comments

Backpacker

kadangkadang kau memang perlu menyimpan kompas di saku baju, tersebab angin bisa saja menerbangkanmu
menuju penjuru tak hingga.
Dan kau tak perlu lagi menerkanerka, jalan mana yang akan membawamu kepada tujuan semula
agar tak tersesat kau nantinya

ransel yang kau bawa, tak ubahnya kantung keluh kesah
kala kau benarbenar muak dengan titah dunia.
Maka kau menyimpannya di ransel itu, kelak di lain waktu kau akan mengambilnya
membikin nilai.
Bagaimana seharusnya rasa terjaga?

oh, apa yang kau lihat dari teropong yang sedari tadi bergantung di lehermu itu?
lanskap pemandangan atau gambaran kefanaan
meski kuyakin tanpa teropong pun matamu sudah sangat awas. menangkap satu dua tampila-tampilan keras
dari bumi yang mahaluas


maka terus saja ingat pesanku. meski rintangan perjalanan kadang memaksamu berhenti melaju

Batang, 4 April 2012

posted under | 0 Comments

FF: Payung Hitam

Payung Hitam

“Kamu lihat payungku?”
“Payung hitam itu?” tanya Edo memastikan.
“Iya, dimana?” aku mulai tak sabar. Payung yang kuletakkan begitu saja di samping meja kerjaku yang bersebelahan dengan meja kerja Edo, raib.
“Barusan dipinjam Fira.” Jawab Edo.
“Kenapa dipinjamkan, sih. Payung itu ‘kan mau kubuang.”  Nada suaraku meninggi.
“Maaf kalau aku nggak bilang kamu dulu, soalnya tadi Fira buru-buru mau pulang. Sebelum dibuang, dipinjam Fira dulu apa salahnya?”
“Gawat!” teriakku sambil bergegas menyusul Fira. Edi melongo keheranan. Ada sedikit perasaan bersalah dihatinya.
***

Aku berlarian di bawah hujan. Mencari sosok yang begitu kukhawatirkan keadaannya. Fira. Dimana kau sebenarnya. Apakah kau tahu kalau kau sedang dalam bahaya? Batinku sambil menahan perasaan panik yang membuncah.
Tak henti-hentinya kuedarkan pandang menyapu setiap sudut tempat yang kulewati. Sepanjang trotor, ruko-ruko, perempatan, dan tempat lainnya yang mungkin di lewati Fira. Fira pasti belum jauh. Hiburku dalam hati. Tak peduli tubuhku telah kuyup oleh hujan bercampur peluh, yang penting Fira ketemu. Juga payungku.
            Aku hampir putus asa. Sampai di taman kota, kira-kira dua kilometer dari kantor, sosok Fira tak juga kutemui. Padahal sudah kususuri jalan menuju rumah Fira. Ah, jangan-jangan Fira naik angkot. Tidak mungkin, Fira sangat senang jalan kaki. Katanya menyehatkan. Meskipun hujan. Hatiku berdebat. Sementara itu perasaan panik, takut, dan kekhawatiranku semakin menjadi.
            Tiba-tiba.
“Fira...!!”
Fira menoleh, segera aku berlari mendekat.
“Den, kenapa hujan-hujanan?” tanya Fira heran. Ia menaungkan payungnya kearahku. Kami berdua berada di bawah payung yang sama.
“Kamu nggak apa-apa, kan?” pertanyaan Fira kuabaikan.
“Aku baik-baik saja.” Matanya berbinar, segaris senyum muncul menghiasi wajahnya.
“Payungnya, em.. payungnya..” Aku kehabisan kata-kata. Aku tak pernah sedekat ini dengan wanita. Kecuali ibuku.
“Payungnya kenapa?”
“Nggak, kamu boleh memakainya.” Aku grogi, salah tingkah. Lantas berbalik meninggalkan Fira setelah sebelumnya kuberi isyarat perpisahan. Aku lupa pada niat awalku mengambil payung hitam itu.
***

Fira Rosiana
12 Februari 1987-28 Oktober 2011

Kutatap batu nisan baru beserta gundukan tanah merah yang masih basah. Air mata tak mampu lagi kukeluarkan. Menangispun tak mampu menghidupkan Fira kembali. Fira telah pergi. Dan semua ini salahku. Sampai detik ini, sesal masih menghuni setiap sudut hatiku. Seandainya waktu itu aku tak lupa...
Payung itu, payung kutukan. Ibu, Kakak, dan Fira. Orang-orang yang aku sayangi. Mereka meregang nyawa di bawah payung itu. Seharusnya payung hitam itu kulenyapkan sejak dulu!
Kubalikkan badan. Kulihat banyak orang memakai payung hitam. Mereka menatapku aneh.
“Aaaaaaargh....!!”
***
Batang, 28 Oktober 2011

posted under | 1 Comments

FF: Perkiraan yang Salah

Perkiraan yang Salah
 Oleh: Kurnia Hidayati

“Kenapa kamu kesini lagi? Cepat pergi, sebelum aku meneriakimu maling?!” Nada suaraku meninggi. Emosiku mudah sekali tersulut kalau sedang lelah begini. Pulang kuliah, tugas menumpuk, di kampus dimarahi dosen, dan sekarang di depan kontrakkanku ada gelandangan yang sudah dua hari ini ‘menyambangiku’.
Sejak kemarin aku sudah mengusirnya. Tapi anehnya ia tetap saja tak jera mendengar omelan panjang lebarku. Entah darimana datangnya dia. Seorang anak kecil aneh yang duduk membenamkan wajahnya dikedua lututnya yang ditekuk. Dilihat dari penampilannya, kutebak kalau ia adalah seorang anak jalanan. Ya, style anak lingkungan kumuh memang sangat kukenal. Karena, beberapa bulan lalu aku pernah ditugaskan untuk praktek mengajar di sebuah perkampungan sekitar TPA.
“Dia pengemis yang belum kamu kasih duit kali, Shin?” ujar Vina teman kampusku ketika kuceritakan  perihal anak itu.
“Enak aja, kemarin aku nggak ketemu pengemis sama sekali.” jawabku.
***
Aku tak pernah tahu kapan ia datang dan kapan ia pergi. Pagi-pagi ketika berangkat kuliah, ia tak ada disana. Lalu sepulang kuliah, ia sudah disana. Duduk di teras kontrakkan dengan posisi favoritnya.
            Sampai hari ketujuh kedatangannya, tak sedikitpun kudapat informasi tentang dirinya. Bahkan melihat wajahnya dan mendengar suranyapun aku tak pernah. Kucoba dengan segala cara, mulai dari bertanya, dari yang halus sampai yang kasar. Ia tetap diam, tak menjawab. Ia seakan tak mendengar dan tak merasakan apa yang kulakukan kepadanya.
            Hari kedelapan.
Kesabaranku sudah habis! Teriakku dalam hati. Aku tak tahan mendengar omongan orang-orang satu kompleks kalau dia masih disini, mengganggu pemandangan saja!
“Hei kamu!!” hardikku sambil menarik tangannya. Ia tetap mempertahankan posisinya. Ia tetap tak mau pergi, seakan ia juga tak mengizinkanku melihat wajahnya. Semakin keras aku menarik tangan juga tubuhnya, semakin kuat pula ia mencoba menutup wajahnya.
Byurrr!!
Tubuhnya basah kuyup. Kuangkat wajahku penuh kemenangan. Sesaat kemudian ia beranjak dan berlari meninggalkanku lalu tubuhnya menghilang di kegelapan malam. Sempat kudengar isak tangisnya. Ada sedikit perasaan iba. Namun, kuabaikan begitu saja.
Kuhela nafas lega. Baguslah! Setidaknya malam ini aku bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan dia. Gumamku dalam hati.
***

Hai Bu Shinta,
Bu Shinta adalah guru favorit Odi dan teman-teman. Ibu sangat sabar mengajar matematika yang katanya susah itu. Berkat Bu Shinta, Odi dan teman-teman udah nggak sering dipalaki Mang Ujo, preman yang suka mengambil uang ngamen kami. Karena kami udah pintar berhitung. Berkat Bu Shinta juga, kami menjadi anak-anak yang lebih  berbudi luhur dan menghindari sifat tercela.
            Maafkan Odi, Bu, kalau Odi udah bikin Ibu marah. Tapi, jujur Odi kecewa, ternyata Bu Shinta nggak sebaik yang Odi kira. Senja itu Odi datang buat ngasih kejutan buat Ibu. Tapi, pertama kali Odi datang ketempat Ibu, Odi sudah dimarahi. Odi jadi berfikir mungkin lebih baik Odi nggak bilang kalau Odi datang.. Tapi, saking kangen dan sayangnya Odi sama Ibu, Odi rela dicaci maki sama Ibu. Mendengar omelan Ibu aja Odi sudah seneng banget.
            Ibu tahu tidak, teman-teman di tempat Odi juga sangat senang mendengar cerita kalau Odi sudah ketemu Ibu. Odi tahu, bohong itu dosa. Sama seperti yang Ibu ajarkan. Maaf. Odi terpaksa bohong sama teman-teman. Odi bilang kalau Ibu juga senang ketemu Odi. Dan mereka malah ingin ketemu Bu Shinta juga.
            Tapi, Ibu tenang saja. Kemarin Odi sudah jujur. Odi katakan yang sebenarnya kalau Bu Shinta amat sangat menyayangi Odi dan teman-teman. Sekian dulu, Bu. Semoga Ibu selalu bahagia.
                                                                                    Odi.

            Kupeluk surat dari Odi. Surat yang kutemukan terselip di bawah pintu itu, kini telah basah.
***
Batang, 6 November 2011

posted under | 0 Comments

FF: Angkot Biru*

Angkot Biru
Oleh: Kurnia Hidayati

Kelam. Jam bulat yang melilit pergelangan tanganku menunjukkan pukul sembilan malam. Bergegas aku keluar area kampus yang sebagian telah gelap. Tugas menumpuk memaksaku menambah waktu untuk berlama-lama di gedung besar itu. Bergulat dengan buku-buku yang tebalnya ratusan halaman, juga rumus-rumus kimia yang kini jadi santapanku sehari-hari.
Aku tiba di depan kampus. Menatap jalanan lengang. Segala hiruk-pikuk dan sebagainya telah hangus seiring malam mulai menghampiri. Menambah kesan sunyi semakin kental. Ah, aku menghela nafas panjang. Ada sedikit rasa canggung, takut, dan khawatir. Mengingat malam ini aku harus pulang sendiri. Naik angkot.
Mungkin aku tak akan secemas ini kalau Santi, rekan sekelas sekaligus tetanggaku absen hari ini. Santi sakit, begitu alasannya. Biasanya kami selalu pulang bersama, tanpa rasa takut walaupun kadang angkot yang ditunggu tak kunjung datang. Namun, malam ini aku harus mengunyah rasa takutku. Menuntut ilmu itu harus butuh pengorbanan dan jerih payah. Hiburku dalam hati.
Lima belas menit. Aku masih berdiri mematung, menunggu angkot yang bisanya lewat di depan kampus. Sesekali aku memainkan handpone untuk mengusir jenuh juga sunyi. Di pos jaga depan kampus, tampak dua orang satpam tengah bercengkrama. Lamat-lamat kudengar alunan irama lagu “Alamat Palsu” dari radio yang digeletakkan di atas meja bersama dua  gelas kopi yang keduanya masih penuh.
Sesaat kemudian, salah satu satpam, Pak Darmo menghampiriku. Menanyakan apakah aku perlu diantar? Mengingat malam semakin larut dan angkot tak kunjung datang. Namun, aku menolaknya dengan alasan angkot pasti masih ada. Karena belum sampai jam sepuluh malam. Lalu Pak Darmo kembali ke posnya.
Akhirnya yang aku tunggu datang juga. Sebuah angkot berwarna biru menghampiriku. Pak sopir menatapku, dari mimik wajahnya seakan mengajakku untuk segera masuk kedalam angkot.
“Santi!” pekikku girang sekaligus heran. Santi tersenyum simpul. Aku memilih duduk di depan Santi, agar lebih leluasa berbicara dengannya.
“San, katanya kamu sakit?” tanyaku. Kuedarkan pandang kesekeliling angkot. Dan ternyata angkot ini sangat sepi. Hanya ada tiga penumpang. Aku, Santi, dan seorang perempuan tua berkebaya merah yang sedari tadi kulihat menopang kepala Santi. Sepertinya aku pernah melihat wanita itu sebelumnya. Tapi, dimana?
“Aku dari rumah sakit, Nin.” Jawab Santi lemah. Kepalanya masih tersandar di bahu perempuan tua itu. Aku menatapnya sekilas, perempuan tua itu tersenyum. Lalu menyeringai. Aku tersentak.
“Dia nenekku, Nin. Yang dari Ciamis.” Santi menjelaskan, melihat sikapku yang aneh.
“Oh, iya. Salam kenal, Nek.” Aku tersenyum. Perempuan tua yang kini kuketahui nenek Santi itu tersenyum. Namun raut mukanya dingin.
Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin kuceritakan kepada Santi perihal tugas-tugas kampus yang telah kukerjakan. Namun, urung kulakukan. Melihat kondisi Santi yang lemah dan pucat menyiratkan kalau ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah kuliah.
***

“San, kenapa kamu nggak turun?” tanyaku heran.
“Aku mau ikut nenek, Nin.” jawabnya serak.
“Oh, ya, udah. Aku pulang dulu, kamu cepet sembuh, ya..” kulambaikan tanganku kearah Santi. Nenek Santi menatapku tajam, sekaligus dingin. Ia masih menyimpan kebekuan itu, bahkan sampai aku turun. Kutinggalkan angkot berwarna biru itu dan melangkah menyusuri jalan setapak menuju rumah.

“Nina, untung kamu cepet pulang.” Ibu menghampiriku yang masih agak jauh dari rumah. Kenapa ibu sengaja menungguku di perempatan? Rumahku kan masih beberapa blok lagi. Tanya kugelayutkan dalam benak.
“Kenapa, Bu?” Tanyaku heran.
“Santi, Nak. Santi..”
“Santi kenapa?”
“Santi meninggal, Nak. ”
“Jangan bercanda, Bu.”
“Tadi Ibu mau hubungi kamu. Tapi, ha-pe kamu nggak aktif.”
Aku tak mampu menahan tawaku. Selera humorku kambuh lagi.
 “Nggak mungkin, Bu. Barusan aku ketemu Santi di angkot sama neneknya.”
Raut muka Ibu bertambah panik. “Santi meninggal di perjalanan menuju rumah sakit, Nak. Kasihan sekali ia meninggal di dalam angkot. Sebab tadi ketika asmanya kambuh, keluarganya bingung untuk mencari mobil sewaan untuk membawa Santi ke rumah sakit. Lalu mereka menyewa angkot.”
Aku masih tak percaya. Melihat reaksiku, tanpa basa-basi Ibu menarik tanganku, membawaku menuju rumah Santi.

Aku terhenyak, ketika kutemi banyak orang berkerumun di depan rumah Santi. Sebuah bendera kuning terpasang di gerbang rumahnya. Kugelangkan kepalaku keras-keras. Tidak mungkin, tidak mungkin.
Lantas tangisku pecah melihat sosok terbujur kaku tertutp kain itu. Ya, Santi. Nama dan bayangan Santi berputar-putar kepalaku. Kutatap sekeliling ruang tengah tempat Santi dibaringkan. Lukisan, ya, lukisan itu. Wanita tua berkebaya merah itu adalah wanita yang kutemui di dalam angkot. Dialah nenek Santi. Kepalaku terasa berputar. Mengingat cerita Santi tentang neneknya yang sudah lama meninggal itu. Lalu aku merasa ada yang memapahku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Semua gelap.
***

Pulang larut lagi. Berdiri di depan kampus, lagi. Dari kejauhan kulihat sebuah angkot biru berjalan mendekat, aku tak berniat untuk naik. Karena aku menunggu Kakak untuk menjemputku.
Angkot itu tak berhenti, ia melewatiku. Dari kaca angkot yang transparant kulihat sosok Santi dan neneknya menyeringai kearahku sabil melambaikan tangan.
Deg!
Bulu kudukku meremang.

Batang, 18 November 2011.


*Tulisan ini udah lama banget. Ini adalah tulisanku yang kalah dalam lomba fiksi foto ultah leutika prio. Ayo krik dan sarannya.. :)

posted under | 0 Comments

Bait Puisi dari Puisi

Aku memang tak lain hanya bait-bait puisi, yang gugur menjadi puisi atau syair-syair tanpa arti.
Ibarat kertas, aku tak henti menanti. Adakah pena yang sudi singgah sebentar, sekedar mengukir satu-dua kata yang hadir dari rlung hati paling curam. Akulah kertas, akulah puisi itu.

Apa lagi yang ingin kucari selain teduh air matamu? Sementara puisi telah lama pucat pasi hilang darah, dari sepersekian jam ia berhenti nafas. Dan aku tak mampu berbuat di luar batas. Sebagai wujud aku terlampau panik, menyikapi kekacauan kata teramat pelik.
Kudengar malam berbisik.

Dan lagi-lagi kutemui puisi di bening matamu.
Kini kutahu, aku tak usah lagi mencari-cari. Sebab musabab puisi muncul kembali.

Batang, 17 Maret 2012

posted under | 0 Comments

Ai: Katakan Padanya.

Katakan!
Katakan padanya, Ai.
Apa saja yang diam-diam masih mengendap di cangkir hias di atas meja.
Ampas kopi yang tampak tipis mengisi.
Bersanding bersama periuk tanpa nasi
Aku acap bimbang, Ai

Ai, tahukah engkau
Di luar sana orang-orang ribut mendebat. Ihwal tampuk kepemimpinan yang pelan hilang. Mengingkari janji-janji. Maka, katakan pada mereka, Ai. Pada dia yang selalu tersenyum bangga. Sebab uangnya telah berjejal mengisi saku, menjadi bantal.
Katakan padanya, Ai.

Ai, selalu saja aku lupa bercerita pada gelas kopi yang hampa itu. Bahwa aku akan selalu menunggu orang-orang bersulang kopi bersama-sama. Meneriaki kedamaian di depan mata. Namun, kapan, Ai? Yang kulihat di televisi orang-orang sibuk menyakiti. Satu-dua saudara mati. Dan yang kuingin, selas kopi hampa itu tak lagi sendiri.
Sungguh, Ai. Masihkah boleh aku menunggu?

17 Mar 2012

posted under | 0 Comments

Perempuan yang Berguru Kepada Hujan*



1/
dan malam runtuh, kumandang adzan membingkai subuh

Telah dicecapnya sisa-sisa waktu
Antara bunga tidur dan terjaga
Ia membaur dalam air wudhu dan kecipak asa

Di luar,
Langit merengut
Kering tanah depan rumah
Akan segera terenggut
Membikin basah         

2/
Kukira hujan telah lama bermusim di dadanya. Menjadi guru sekaligus sahabat karib. sebab hampir setiap waktu ia tak henti menjabati tangan kehampaan. Mencicipi bau bangkai bungkus nasi dan teman-temannya. Ia meniru tingkah hujan. Lagi.
Kemudian dihamparnya sajadah, lantas hujan kembali merambati senar jiwanya. Dan sunyi memainkan lagu berlirik melankolia.
Ia berdoa.

3/
Adakah ia salah, jika ingin berlelah
Menghitung satu dua bulir hujan
Yang turun, membasuh beranda
Cekung matanya adalah tanda, betapa ratapan tak lebih dari suara sia-sia

Di liriknya koran basah bergambar orang berdasi dan gedung mewah. Sementara di depan cermin, dirinya tampak sebagai sampah.

“Ya Allah. Sampai kapan kemiskinan ini akan mendera?”

Batang, 24 Februari 2012

* Puisi ini aku ikutkan dalam lomba puisi WR. Walaupun nggak menang, I like this one.
Ambil hikmahnya aja. Kalau aku sering kalah lomba, berarti aku jadi sering ngirim puisi ke blog. 
Tuing-tuing... 

posted under | 2 Comments

Ai: Dan Malam Pun Berkata Lirih

Ai.

lalu malam hanyalah debar sekilas. dan senja tadi tak lain hanya gelas kosong yang perlu diisi.
tiba-tiba aku jadi selambar kertas, yang bersiap bergabung dengan perapian. Dan gelas kosong itu tak mampu membantku. sebab harusnya hujan mau, mengisinya walau setetes saja.


Ai.
sungguh aku kehilangan jejak. meski hidung ini sudah lelah mengendus layaknya binatang-binatang yang hilang tapaknya.
mencari tumbal kelaparan. begitulah diriku, Ai. sedetik dua detik, aku hanya terasing. dan mungkin sepi ini kelak akan menjadi diorama. di pajang pada etalase bening berbahan pecahan hening.
gelap meraja.

malampun berkata lirih. kupuisikan semua tentangmu. sambil terus mengingat setiap tawa, yang masih sempat melekat di ambang pintu hijau itu. sebelum angin benar-benar membawanya.
Ai, aku tak tahu harus berpuisi apa.

Batang, 3 Maret 2012

posted under | 0 Comments

Ai?

Ai. Siapakah Ai?
Baiklah, Ai adalah nama tokoh yang kuciptakan sendiri dalam khayalku. Ai sering mengisi setiap sudut, setiap awal, setiap pertengahan bait-bait puisiku.
Entah kenapa aku jadi senang memakai nama Ai untuk puisiku, ya?

posted under | 0 Comments

Puisi yang Sempat Remuk di Sudut Ruang

sampai juga puisi ini ke dalam dadamu. ibarat melati yang gugur dari tangkainya, puisi ini sungguh telah hilang wangi. menebar, menusuk aroma yang pernah hinggap, berkelindan, bersama debu-debu tipis tanpa gerimis.

lalu pada sudut kegamangan. seseorang pernah berujar pada sisa dingin dinding yang sempat namun telah alpa diciumi angin. Sebanyak embun gemar meningkahi daun-daun di pagi hari.

lantas biarkan saja. kugulung lagi berlembar-lembar kenang, agar aku dapat berpuisi. karena malam masih menggayut. Izinkan aku punguti lagi.
Serpih puisi yang sempat kuremukkan
di sudut ruang.

8 Maret 2012

Puisi ini lanjutan dari puisi di akun FBku.

posted under | 0 Comments

FF: Lelaki Tua dalam Ingat

FF: Lelaki Tua dalam Ingat*

Setengah jam perjalanan menuju sekolah bus yang kunaiki beramai-ramai bersama teman-teman berhenti. Tampak seorang lelaki tua seumuran kakekku naik. Wajahnya liat, tanpa ekspresi. Aku bergidik ngeri. Wajahnya mengingatkanku pada tokoh psikopat di film-film yang sering aku tonton. Hanya saja ini lebih tua, dan pastinya nggak sekeren di film.

"Aw.."
"Aduuh.."
Tak lama, bus behenti lagi. Kali ini mendadak, terdengar makian panjang pak sopir. Nyaris saja bus yang kami tumpangi kecelakaan. Seorang perempuan paruh baya tiba-tiba menyelonong saja menyebrangi jalan. Kami menghela nafas lega.Apa jadinya kalau tadi bus yang kami tumpangi menabrak perempuan itu? Lalu bus melaju lagi, menyisakan keterkejutan berarti.

Kulirik lelaki tua itu. Matanya menerawang menembus kaca jendela bus yang terbuka. Entah apa yang dipikirkannya. Lagi-lagi terbayang beberapa dugaan tentang lelaki itu. 
Pertama, lelaki itu mantan preman. Lihat saja, lengan kirinya yang kekar terlihat jelas tato bergambar naga.
Kedua, lelaki itu masih preman. Jangan-jangan setelah ini ia mengeluarkan pisau, golok, celurit, atau apa lah dari dalam sakunya. Sejak ia naik bus ini, kuliahat tangan kanannya tak pernah keluar dari sakunya, malah sepertinya ada "sesuatu" yang ia simpan. Bukan apa-apa, hanya saja aku penasaran dengan benda apa yang membikin sakunya gembung dan membuat tangan lelaki itu tak mau keluar dari lubang sakunya. Benda berhargakah? Atau malah benda tajam yang seperti kusebutkan tadi. Entahlah.
Ketiga, lelaki itu orang baik-baik. Dugaan inilah yang membuatku yakin. Ah, sudahlah. Mungkin saja tato naganya ia buat ketika muda dulu. Dan benda dalam sakunya mungkin saja benda berharga. Misalnya puluhan uang receh yang mungkin akan terburai keluar kalau lubang sakunya tidak ditutup dengan telapak tangan kanannya.

Aku beralih pandang. Dari lelaki itu menuju layar HP-ku. Baru saja kuterima SMS dari Rico, teman sekalasku.





Tiba di dekat perempatan Jalan Sudirman, kondektur menarik tarif dari tiap penumpang. Termasuk lelaki tua itu, tapi, ada yang aneh. Bukan uang yang lelaki tua itu keluarkan, justru...
"Permisi, Oom, Tante, maaf mengganggu.."
"aku tak mau kalau aku di madu.."
Dendang lelaki tua itu dengan bekal 'kecrekan' yang dibenturkan dengan telapak tangannya.
Sontak kami semua tergelak. Lalu,
Pletakk!
'Kecrekan' lelaki itu melayang lalu mendarat di kepalaku.

*Tulisan itu aku buat tanggal  4 Oktober 2011 pukul 0:19 ·
Wah, malem banget, ya. Kebiasaanku nulis pas mau tidur. Tapi nggak tahu kenapa sekarang aku jarang nulis.
:(

posted under | 0 Comments

Puisi: Kerinduan Ayah

Kerinduan Ayah

Kurnia Hidayat


Harusnya kuceritakan sejak dulu, betapa aku pura-pura bosan tentang
Kerlip bintang yang sedari kecilku kau tunjuk sebagai cita-citaku dimasa datang

Uban yang kini rajin berbiak di rambutmu
Menyadarkanku bahwa
Sebanyak itulah kau biakkan sayangmu
Dalam satu demi satu nama yang silih berganti hari
Mengurangi usiamu

Bukan hanya itu
Mataku menelusur jauh
Gurat kerut meliput laramu
Menjelma saksi : kau tak lagi garang, lari menghadang badai, berperang lawan pedih
Dalam fana

Namun, ada satu yang masih setia huni gengamanmu
Rindumu adalah penantian
Pucuk cemara lembut, jingkat kaki kecil, atau beragam rupa rasa gulali
Lindap dalam bayangmu

“Aku tak ubahnya gadis kecil yang berlarian di bawah naungan senja
Lantas ceriaku, ceriamu, tuntunku dalam pelukmu...”

Oh, Ayah
Kadang sulit kusadari
Sayang yang kau jelmakan embun tak ubahnya kenang yang coba kau ulang
Memutar balik rasa, coba kau samai dengan kasih yang pernah kau kecap
Layang-layang, kembang api, mobil cahaya, atau selembar buku gambar tua

:Izinkan aku jadi harapmu
Batang, 3 Oktober 2011


*Untuk Ayahku yang tak mengurangi kasihnya
Meski anaknya telah beranjak dewasa



NB: Puisi ini kubuat waktu mengikuti lomba puisi Rumah Pena. Walaupun nggak menang, yang pasti aku suka puisi ini.

posted under | 0 Comments

Sengaja kuposting tulisan-tulisan lama yang sempat melekat di note FB jadulku. Miinox Nia. Yah, kalau mau menyebut nama FB itu, jujur aku malu. Sebab dari namanya aja masih alay banget. Yang penting sekarang udah nggak alay, lah. Huh! Gitu aja rempong!

 Oke, deh. Abis ini bakal aku posting. So, tunggu aja. Jangan lupa kripik pedesnya, ya. Buat motivasi aku.
:)
Happy Good Read!!

posted under | 0 Comments

Selamat Sore, Hujan!

Hai hujan, adakah kau tak jemu diluruh gelegar guntur, ditendang awan mendung
:begitu sesore ini


Ada hal yang ingin kubisik padamu, pada daun basah, pada tetes dan genangan air di depan beranda
bahwa, aku merindui dia

Sore, hujan. Siang tadi ketika terik meretakkan dingin, sungguh kuingin
mengambilmu, memainkanmu sampai puas
biar kuyup semua lelah ini biar padam semua bara

Namun, aku urung
Tersebab aku terlampau sayang padamu
Tak kuizinkan semua orang tahu kalau
tempo hari aku pernah membungkusmu, Hujan. Menyimpanmu di kotak paling terang

Hari masih sore ketika kau kembali berujar!

Batang, 15 Jan 2012

posted under | 1 Comments

Puisi Tertinggal

Secara kasat aku mampu melihat, kau dengan sigap berkemas memunguti satu-dua benda untuk kau bawa.
Menuju kota.
Dan hujan masih saja, menyembul lalu jatuh lewat celah awan, menelusur pori-pori tanah membikin basah. Namun, kau tetap saja. Pantang kalah.
"Kau mau kemana? Hari masih hujan.." bisikku tanpa suara.

Kau berbalik, memunggungiku. Setelah berulang kau hitung mana hal yang harus menjadi kawan serta.

"Benar pergi, kau.." 

Kutelusur jalan, mencari jejakmu yang hilang. Sambil membawa carik-carik kertas, karena kau lupa sesuatu.
Puisi ini tertinggal di hatiku..

posted under | 0 Comments

FF Cerita Kita : Melarung Kenangmu*

Melarung Kenangmu
Oleh: Kurnia Hidayati

“Kamu akan pergi?” tanyaku padamu di sebuah senja di bibir pantai.
“Ya, begitulah,” tukasmu cepat.
Aku tersenyum pahit. Ternyata kedatanganmu ke Semarang bukan untuk menemuiku. Namun kau akan berpamitan untuk mengejar impianmu bersekolah ke Belanda.
***
            Kau adalah gadis lincah nan ceria. Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu, kau tak lain hanya gadis kecil berkepang dua berumur delapan tahun. Yang sesekali mengelus perahu dari kertas hasil buatanmu sendiri. Meskipun perahu kertasmu tak berumur panjang, terkoyak sesuatu karena kau tak hati-hati menyimpannya. Lalu kau akan membuat lagi dan lagi.
            Kau rajin bertandang kerumahku. Ibumu dan ibuku sahabat karib sejak kecil. Karena itu, bukan tidak mungkin kau dan aku menjadi karib hingga dewasa. Bahkan ketika kau dan keluargamu memutuskan untuk pindah ke Bandung.
            ***
“Mas, aku boleh minta tolong nggak?” tanyamu memecah keheningan. Mentari mulai hilang. Tak terasa sudah sekitar dua jam kita berdiam disini, di bibir pantai favorit kita waktu remaja.
“Apa, Ann?” Kutatap manik matamu.
“Mas tolong terusin buat perahu kertasku dong. Masih kurang 500 perahu lagi biar jadi lima ribu perahu,” pintamu.
“Lho, Ann. Kamu masih suka buat perahu kertas?” Aku terkejut, kukira kau telah berhenti membuat perahu kertas bodoh yang sering mengundang cemoohan teman-temanmu ketika kau lulus SMP. Ternyata aku salah, kau masih saja setia membuatnya. Satu, dua, sampai ribuan demi sebuah janji konyol masa lalumu.

“Iya, Mas. Kan aku udah janji kalau aku bakalan buat perahu kertas sampai Papa pulang.” Raut ceria seketika menghilang dari wajahmu. Kau menggigit bibirmu, menahan air mata yang akan segera membuncah. Namun, sesaat kemudian bendungan matamu jebol. Dan kau mulai terisak.
“Udah, jangan nangis. Iya, deh. Mas Yasul janji,” jawabku sambil mengusap punggungmu.
Langit memerah. Kupilin janjiku menuju langit jingga.
***
Sepuluh tahun yang lalu. Kau sembilan tahun dan aku sebelas tahun.
            Sungguh hari itu adalah hari paling kelam. Mendung diam, namun rinai gerimis muncul di mana-mana. Terutama di ruang tengah rumahmu. Kulihat pula hujan deras turun di mata Tante Vita, ibumu. Sembari mendekap foto Papamu yang  berbingkai kayu, sesekali ia mengelus kepalamu. Sementara kau masih asyik melipat kertas warna-warni menjadi perahu-perahu kertas meskipun satu-dua pelayat datang, mengantar tanda duka cita. Kau belum paham apa yang sebenarnya terjadi.

“Papa bilang, kalau Papa pulang Anna mau diajak ke pantai. Biar perahu-perahu kertas Anna berlayar, makanya Anna bikin perahu terus....”
Aku ingat, kata-kata polosmu. Namun sayang, Papamu tak akan pernah pulang. Ia tewas dalam kecelakaan kapal ketika bertugas di Papua. Kebiasaanmu membuat perahu kertas mengundang iba juga air mata siapa saja.
            Ketika kau beranjak remaja, kau telah paham arti sebuah kematian. Namun kau tetap saja membuat perahu kertas untuk Papamu. Kau bilang perahu kertas buatanmu itu sangat istimewa. Sebab perahumu berhias baris-baris doa di setiap lipatannya.
***
Satu bulan sejak kepergianmu.
Kubawa ribuan perahu-perahu kertas yang telah usai kubuat ke bibir pantai. Satu demi satu kularung perahu warna-warni ini sambil sesekali menyeka air mata. Kecelakaan pesawat telah merenggutmu dari mimpi-mimpimu. Namun setidaknya, kau telah benar-benar pulang, menyusul Papamu yang sangat kau rindukan.
Aku telah menepati janjiku.
***
Batang, 19 Jan 2012

*Cerita ini kalah dalam lomba kepenulisan FF Cerita Kita

posted under | 1 Comments

Pada Kerlip Lilin

Pada Kerlip Lilin*
Oleh: Kurnia Hidayati

1/
Pada kerlip lilin, kita sibuk berkhayal
Tentang sebuah istana dari cahaya
Ada asa tertinggal di nun jauh, pada hari ribuan jam lalu
Namun, kau tetap abai.
Berlanjut cerita tentang putri-putri pelangi dan hal-hal musykil lainnya
Aku hanya diam

2/ 
Sengaja kuhembus lilin itu perlahan
Merelakan nyalanya meliuk kesegala arah, agar gundahmu sedikit saja tak terlalu jelas
Oleh mataku yang awas
Kuyakin sinarnya pelan remang, dimakan masa habislah nyala

3/
Oh, apa sebenarnya yang ingin kau ungkap?
Sedangkan lilin tetap memainkan bayanganmu
Sementara cerita berganti, menjadi lagu juga larik puisi
Mengenai hujan, mengenai gerimis yang kadang tak mau pergi
Membunuh lampu-lampu

4/
Malam menebal, cahaya sebenarnya tak ada tanda
Cerita berganti menjadi doa-doa sederhana
Maka kau mengajariku berpikir terang
Membimbingku menuju menemui pagi melalui tangga mimpi
Meski kutahu, semuanya terlampau petang, Ibu.

Kulihat lilin itu, ia telah padam.

Batang, 21 Januari 2012 

*puisi yang menang lomba puisi UNGKAP diselenggarakan oeh grup UNSA.

posted under | 0 Comments
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments