Puisi-puisi Kurnia Hidayati (Indopos, 7 Juli 2013)


Alhamdulillah, dua buah puisi saya dimuat di Indopos edisi Sabtu, 7 Juli 2013. Selamat membaca. :)


Saat Badai

kita kemudian memilih
untuk saling menentramkan
dan berpegangan
di atas geladak kapal yang diguncangkan
oleh ngeri laut dan ombak
kenestapaan

kita kelasi pengecut nan gagal
meringkuk, memeluk tubuh yang digigilkan nasib di pekat buritan
sembari menebak arah mercusuar
dan mengira-ngira
ke mana arah pulang dan muasal tujuan
atau mencari penjuru untuk sekedar menjatuhkan sauh
sebelum kapal yang kita tumpangi kabur dari ketakutan

maka, beginilah kita di tengah badai
-saling menentramkan dengan santun kata-kata-
meskipun maut kian dekat mengendap-endap
menyamar sekawanan lanun
yang akan merampas nyawa
tiba-tiba

inilah badai! sebenar-benar badai

Juni 2013


Sebelum Tiba Pagi

hari, sebelum tiba pagi aku tak lebih kosong dari sekerat roti basi
di atas meja
yang begitu dingin oleh udara
sedangkan kau tetaplah menjadi bayangan
yang begitu hangus digigit kelam malam

hari, sebelum tiba dini hari
aku masih sekerat roti yang merindu
untuk dicelup dengan secangkir kopi
yang mendidih bersama kepulan asap

2013






posted under | 1 Comments

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI (MINGGU PAGI, 7 JULI 2013)

Alhamdulillah, puisi saya dimuat di Minggu Pagi (KR Grup) pada tanggal 7 Juli 2013. Berikut ini adalah 3 dari 6 puisi yang dimuat di sana. Selamat membaca!

Harusnya Kau Tutup Pintu

harusnya kau tutup pintu sebelum pergi
di suatu malam yang hangus
jelaga

jalanan sudah sepi benar, namun pintu rumahmu
masih terbuka
mengundang kesumat di mata para pria

ah, harusnya kau tutup pintu
agar doa yang payah ibu kumpulkan
juga luka yang beristirahat
tak moksa berlarian

namun, pintu telah kadung terbuka.
ingatan pun sudah lama purna
karena
pada malam hangus jelaga, kau berkeras
menemui seseorang yang tak memendam
kesumat di matanya

7 Februari 2013

Pada Warung Lesehan Pinggir Jalan

kita tiba, di sebuah warung pinggir jalan. aku tak bertanya,
“ke mana lenyap semua kursi?”
ini warung lesehan. di mana aku, kau dan orang-orang harus melipat kaki
dan duduk sambil bersabar menunggu menu pesanan
di atas lembar tikar

jalan raya, seperti biasa
masih tawar-menawar dengan ingar klakson
serta gerung yang menjelmakan kendaraan bermotor,
truk-truk, bis: seperti bunyi gaduh kawanan gergasi
mengundang ngeri di bibir sunyi

kamu, memesan malam. pada gelas yang kausebut cangkir kopi. menyesapnya sesekali sembari menghitung jumlah siluet yang bertabrakan akibat cahaya lampu mobil. mencipta cermin, yang silih berganti.
*
Pada warung lesehan di pinggir jalan. ada rindu yang perlu diisi.
selain malam yang tiba-tiba menetas di gelas, cangkir, panci, atau
kepingan bulan yang ditata di atas piring.

2013


Obituari Ponsel II
: Ayu Listianingrum

kata-kata perihal ponsel itu ibarat bara api yang berkobar
memburu, membakar kalimat-kalimat sesal dan gagal
dari sekian pertemuan yang tak melulu bisa kita gambar-lukiskan
di sebuah siang selepas kesibukan, mencipta diskusi dan persuaan.

mungkin begitulah cara ponsel protes kepadamu. dengan pura-pura mati (atau) memang benar ia ingin diperistri sunyi. dengan membiarkan ia sendiri di altar lemari, dan tak ingin diganggu. meskipun disapa sebentar, sekedar mengecek pulsa, membaca atau mengirim sms, atau bahkan menelepon.

ah, ponsel itu. jelas menggunting lembar-lembar pesan, memblokir percakapan, antara
aku dan dirimu yang selalu ribut berebut ilmu. namun, kali ini sungguh aku serius menulis obituari ponselmu. agar ponselmu yang tengah bercumbu dengan sunyi lekas
tersadar akan tugasnya (membantumu bicara).


jadi, kapan (ponsel) kamu hidup lagi?

2013




posted under | 1 Comments
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments