Bait Puisi dari Puisi

Aku memang tak lain hanya bait-bait puisi, yang gugur menjadi puisi atau syair-syair tanpa arti.
Ibarat kertas, aku tak henti menanti. Adakah pena yang sudi singgah sebentar, sekedar mengukir satu-dua kata yang hadir dari rlung hati paling curam. Akulah kertas, akulah puisi itu.

Apa lagi yang ingin kucari selain teduh air matamu? Sementara puisi telah lama pucat pasi hilang darah, dari sepersekian jam ia berhenti nafas. Dan aku tak mampu berbuat di luar batas. Sebagai wujud aku terlampau panik, menyikapi kekacauan kata teramat pelik.
Kudengar malam berbisik.

Dan lagi-lagi kutemui puisi di bening matamu.
Kini kutahu, aku tak usah lagi mencari-cari. Sebab musabab puisi muncul kembali.

Batang, 17 Maret 2012

posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments