Perempuan yang Berguru Kepada Hujan*



1/
dan malam runtuh, kumandang adzan membingkai subuh

Telah dicecapnya sisa-sisa waktu
Antara bunga tidur dan terjaga
Ia membaur dalam air wudhu dan kecipak asa

Di luar,
Langit merengut
Kering tanah depan rumah
Akan segera terenggut
Membikin basah         

2/
Kukira hujan telah lama bermusim di dadanya. Menjadi guru sekaligus sahabat karib. sebab hampir setiap waktu ia tak henti menjabati tangan kehampaan. Mencicipi bau bangkai bungkus nasi dan teman-temannya. Ia meniru tingkah hujan. Lagi.
Kemudian dihamparnya sajadah, lantas hujan kembali merambati senar jiwanya. Dan sunyi memainkan lagu berlirik melankolia.
Ia berdoa.

3/
Adakah ia salah, jika ingin berlelah
Menghitung satu dua bulir hujan
Yang turun, membasuh beranda
Cekung matanya adalah tanda, betapa ratapan tak lebih dari suara sia-sia

Di liriknya koran basah bergambar orang berdasi dan gedung mewah. Sementara di depan cermin, dirinya tampak sebagai sampah.

“Ya Allah. Sampai kapan kemiskinan ini akan mendera?”

Batang, 24 Februari 2012

* Puisi ini aku ikutkan dalam lomba puisi WR. Walaupun nggak menang, I like this one.
Ambil hikmahnya aja. Kalau aku sering kalah lomba, berarti aku jadi sering ngirim puisi ke blog. 
Tuing-tuing... 

posted under | 2 Comments

Ai: Dan Malam Pun Berkata Lirih

Ai.

lalu malam hanyalah debar sekilas. dan senja tadi tak lain hanya gelas kosong yang perlu diisi.
tiba-tiba aku jadi selambar kertas, yang bersiap bergabung dengan perapian. Dan gelas kosong itu tak mampu membantku. sebab harusnya hujan mau, mengisinya walau setetes saja.


Ai.
sungguh aku kehilangan jejak. meski hidung ini sudah lelah mengendus layaknya binatang-binatang yang hilang tapaknya.
mencari tumbal kelaparan. begitulah diriku, Ai. sedetik dua detik, aku hanya terasing. dan mungkin sepi ini kelak akan menjadi diorama. di pajang pada etalase bening berbahan pecahan hening.
gelap meraja.

malampun berkata lirih. kupuisikan semua tentangmu. sambil terus mengingat setiap tawa, yang masih sempat melekat di ambang pintu hijau itu. sebelum angin benar-benar membawanya.
Ai, aku tak tahu harus berpuisi apa.

Batang, 3 Maret 2012

posted under | 0 Comments

Ai?

Ai. Siapakah Ai?
Baiklah, Ai adalah nama tokoh yang kuciptakan sendiri dalam khayalku. Ai sering mengisi setiap sudut, setiap awal, setiap pertengahan bait-bait puisiku.
Entah kenapa aku jadi senang memakai nama Ai untuk puisiku, ya?

posted under | 0 Comments

Puisi yang Sempat Remuk di Sudut Ruang

sampai juga puisi ini ke dalam dadamu. ibarat melati yang gugur dari tangkainya, puisi ini sungguh telah hilang wangi. menebar, menusuk aroma yang pernah hinggap, berkelindan, bersama debu-debu tipis tanpa gerimis.

lalu pada sudut kegamangan. seseorang pernah berujar pada sisa dingin dinding yang sempat namun telah alpa diciumi angin. Sebanyak embun gemar meningkahi daun-daun di pagi hari.

lantas biarkan saja. kugulung lagi berlembar-lembar kenang, agar aku dapat berpuisi. karena malam masih menggayut. Izinkan aku punguti lagi.
Serpih puisi yang sempat kuremukkan
di sudut ruang.

8 Maret 2012

Puisi ini lanjutan dari puisi di akun FBku.

posted under | 0 Comments
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments