Ai: Dan Malam Pun Berkata Lirih

Ai.

lalu malam hanyalah debar sekilas. dan senja tadi tak lain hanya gelas kosong yang perlu diisi.
tiba-tiba aku jadi selambar kertas, yang bersiap bergabung dengan perapian. Dan gelas kosong itu tak mampu membantku. sebab harusnya hujan mau, mengisinya walau setetes saja.


Ai.
sungguh aku kehilangan jejak. meski hidung ini sudah lelah mengendus layaknya binatang-binatang yang hilang tapaknya.
mencari tumbal kelaparan. begitulah diriku, Ai. sedetik dua detik, aku hanya terasing. dan mungkin sepi ini kelak akan menjadi diorama. di pajang pada etalase bening berbahan pecahan hening.
gelap meraja.

malampun berkata lirih. kupuisikan semua tentangmu. sambil terus mengingat setiap tawa, yang masih sempat melekat di ambang pintu hijau itu. sebelum angin benar-benar membawanya.
Ai, aku tak tahu harus berpuisi apa.

Batang, 3 Maret 2012

posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments