Kupandangi sketsa wajahmu yang terukir jelas di pantulan cermin. Wajahku dan wajahmu sangat mirip. Bak pinang dibelah dua.

posted under | 0 Comments

Mengubang dalam Ingat

Sebelum aku menutup tirai rindu, izinkanlah aku untuk sejenak mengenang tawamu yang renyah, serupa kerupuk yang selalu kita beli di kantin. Lalu, melahapnya ramai-ramai. Rasanya manis, lezat. Mungkin hanya seci saja yang mampu mendarat di lidah kita, mungkin hanya sekeping saja. Itupun tak sanggup menandingi cacing yang menggeliat di dalam lambung. Karena sekeping, secuil.
Ketahuilah, sobat. Bukan rasa lapar yang ingin aku ganjal dengan persahabatan. Bukan rasa sesak yang coba aku kenang untuk menghilangkan bayang. Tapi, aku sungguh ingat rasa gurih yang liat. Serta persahabatan yang pekat.

posted under | 0 Comments

Yang Aku Pahami

Aku hanya tahu rasa manis
Yang di kuarkan gulali tanpa kusadari ada pahit yang menyelinap, jauh
Ada segala artian yang tak cukup hanya diterjemahkan kamus yang menjadikan tubuh hangus
Tanpa sisa

Aku hanya pahami, bagaimana berkabar suka
Bagaimana bercermin bayang
Aku hanya tahu itu

Aku memang tak pernah menoleh pada aturan yang membuat kertas buram
Atau reranting kering yang menjadikan pohon
Gugur : kerontang

posted under | 0 Comments

FF #3: Aku Harus Rela

"Kumohon jangan bertanya, apakah aku masih mencintai Dira." Desis Kevin pada hampa taman kota senja itu. Bunga-bunga yang tenang kini terusik oleh desir angin kacau, sekacau hati Kevin. Di lautan matanya, tersimpan sesal teramat sangat. Ia sangat mencintai Dira, seorang gadis yang dua hari lalu resmi menjadi tunangan Revan, kakak semata wayangnya.
"Aku nggak cinta sama kamu, Dira. Selama ini kita pacaran, aku cuma kasihan sama kamu..." kata Kevin sambil menahan tangis dan emosinya.
"Revanlah yang mencintai kamu, lebih dari dia mencintai dirinya. Camkan itu!"
"Tapi, Vin, aku nggak bisa cinta orang selain kamu.." bulir air mata menuruni kedua pipi Dira. Sejurus kemudian tangisnya pecah membuat hati Kevin remuk redam. Kevin sangat membenci perpisahan, apalagi dengan orang yang sangat ia cinta. Tapi, ia tak dapat mengelak. Ia harus merelakan Dira demi Revan yang kini tengah bersiap menyambut maut karena kanker otak yang betah bermukim di kepalanya sejak kecil. Kevin harus rela.

Namun kini sesal menggelayut di hatinya. Kenapa ia bisa sebodoh ini. Sejak kecil, Kevin selalu mengalah pada kakaknya. Pernah suatu hari ia merelakan skateboard kesayangannya, karena Revan merengek ingin dibelikan skateboard yang sama dengan punya Kevin. Sedangkan stok di toko telah habis. Kevin sangat ingat itu.

"Kenapa aku harus terus mengalah denganmu, Rev!" mendadak perasaan dendam menggenangi hatinya. Matanya nanar, ia beranjak pergi dari taman. Kevin tak akan melepaskan Dira.

Kriing.. Kring..
"Halo?"
"Kev, kamu dimana? Segera ke Rumah Sakit Husada!" terdengar suara panik Ayah dari seberang telepon.
"Ada apa, Yah?"
"Hibur kakakmu, cepatlah!"
"Ada apa ini, Yah?" Kevin mulai cemas.
"Dira, kecelakaan. Dia sudah berpulang, Nak!"
Mendadak semuanya gelap.

posted under | 0 Comments

Rindu Pelangi

Kemarau kini mungkin tak pernah mau tahu bagaimana
Aku memilin decak di bawah lengkungmu

Waktu mungkin telah lelah berkeluh kesah
Pada retakan tanah, daun-daun kering
Petani usai berharap
Angin desirkan kering

Lihatlah!
Wajah-wajah lwgam tanpa tawa
Senyum terpaksa bergaris cibiran
Ah, aku telah lelah!
Pelangi, adakah kau kan kemabali?


Kurnia Hidayati
Inspirasi Pekat, 17 September 2011

posted under | 0 Comments

Aku Masih Sangat Ingat

Aku masih sangat jelas mengingat setiap bunyi gemerincing
Mengetuk pelataran hatimu
Yang licin
Yang berkilau

Sajak yang ingin terlontar serupa baris gerimis
Menitik penuh kesyahduan

Lalu akupun meleleh
Meluruh
Diterjang tsunami yang nyata-nyata bermuasal di kedalaman matamu
Adakah aku ingat bahwa
Gemuruh yang sering kubawa serta telah
Melekat lalu
Menjadi gemuruhmu

posted under | 0 Comments

Diary 1: Udah mulai kuliah, Cuy..

Dengerin lagu Rock (Lagi) bikin semangat jiwa mudaku membara lagi. Hehe, emang sekarang nggak muda apa? Yups, udah deh nggak usah di debatin lagi. Please? Oke, mau ngomongin apa ya..? Oh, ya, udah mulai lagi nih segala rutinitas yang menyita waktu dan pikiranku. Tapi, nyenengin dan banyak ilmu. Kuliah lah. Apa lagi. Hihihi
Ya udah lah, ane cuma pengen posting itu aja kok. Lanjutin besok ya.. Bye..

posted under | 0 Comments

FF #2: Sob Tok!

" Sob, lo udah tau belom? Si Dea udah putus, tuh." Ujar Anto di sela-sela jam istirahat.
"Serius loe, Tok? Wah ane punya kesempatan, nih..." Mata Sobarudin yang biasa di panggil Sob (biar keren dikit) berbinar.
"Ya, iya lah. Buat apa juga gue bohong. Nggak ada untungnya juga."


Di kantin. Sob mulai melancarkan aksi gombalnya dengan menghampiri tempat duduk Dea dan teman satu genk-nya yang tengah asyik menyantap bakso.
"Dea.. ntar sore kita ketemuan, yuk!" Tanpa basa-basi Sob mengutarakan maksudnya.
"Boleh, dimana?" jawab Dea sambil meneguk teh manis yang sudah tinggal setengah gelas.
"Ssst.. ntar deh gue SMS-in. Gue cabut dulu ya," Sob berlalu setelah sebelumnya melemparkan senyum genit kepada Dea. Sementara teman satu genk Dea tertawa cekikikan.

Di taman dekat rumah Dea.
"Dea, mau nggak kamu jadi pacar aku?" Sob Si Playboy Cap Tikus mulai ber-aku-kamu (pertanda mulai melancarkan aksinya)
"Hah? Apa lo bilang? Pacar? Nggak salah?
"Lho, maksud kamu apa Dea. Bukannya kamu udah putus?"
"Iya, udah putus. Tapi, aku udah jadian sama Antok sejam lalu. Maaf ya.." wajah Dea yang manis mendadak berubah murung.
"Antok jadian sama kamu? Sial! Dia uadh bohongin gue!"

posted under | 0 Comments

FF #1: Mau? Ambil Aja..

"Ck.ck.ck."
Eno berdecak kagum sambil terus memandangi sepeda motor baru milik Adul.
"Keren, Dul.. Andai aku juga punya yang kayak gini.." tunjuk Eno pada sepeda motor matik berwarna hitam metalik itu.
"Kamu mau, No? Ambil aja..." sahut Adul enteng. Eno melongo.
"Gila kamu, kalo aku ambil beneran ntar kamu nangis lagi. Ogah aku, kalo kampung kita mendadak banjir gara-gara air mata kamu.."
"Ih.. beneran. Ambil aja katanya kamu suka."
"Heh??" Eno mengernitkan dahi.
"Lagian ini motor bukan punya aku tahu.Ini punya kamu, tadi bokap kamu nitipin disini, buat surprise gitu..."
Seketika Eno melonjak kegirangan. Adul cuma geleng-geleng kepala.
Tanpa di komando, Eno langsung meminta kunci  yang sedari tadi di pegang Adul dan berniat mengemudikan motornya dengan cepat keliling kampung. Mau pamer dia.
Tiba-tiba.
Brakk!!
Terdengar tabrakan yang sangat keras.

posted under | 0 Comments

Catatan Kecil di Penghujung Pagi

Menulis, dan menulis lagi. Karena sebagian dari hidupku ingin kuhabiskan dengan menulis dan menulis lagi... Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup. Hihihi

posted under | 0 Comments

Puisiku buat lomba : Secarik Maaf untuk Sahabat

Tempo hari, kubuang buku harian lusuh

Berkisah segala cinta, tawa, dan keluh

Tentang namamu

Dalam angkuh kubisik kata,

“Aku tak lagi butuh dirimu....”



Aku meluap lupa pada sebuah nama, pada sebuah perjamuan

Bintang yang sering kita pandang, telah lumat dalam ingat

Kuingkari jarak yang sungguh dapat kulacak

Lantas kusimpan potretmu, pada bingkai berkarat



Hari telah mengubah nama, waktu belum usai mengganti posisi

Canda tawa dan janji masa muda mengabur begitu saja

Acuhku retakkan prasasti

Sebuah persahabatan



Lalu pada sebuah senja di akhir Ramadhan

Gema takbir memukul sisi penaku

Meluruh jiwaku

Simbahi lembaran penuh nista



Aku mengais bumi, temui keping ceriamu

Maaf kugemakan di antara koridor waktu

“Sobat, maafkan salahku...”



Duhai sahabat,

Benar-benar kupahami arti sebuah pertemuan

Tak kupungkiri awal sebuah perpisahan

Kuakui ku tak selalu benar

Secarik maaf ini kukirim kepadamu, teriring butir ketulusan yang kukabar bersama angin…







:Untuk sahabat masa sekolahku yang kerap terlupa

Sehingga tak jarang, kita tak pernah berkabar

Tentang gerimis dan hujan yang kerap jadi mimpi kita


By: Kurnia Hidayati

NB: Ini puisiku yang tempo hari di ikutkan lomba yang diadakan sebuah komunitas di jejaring sosial Facebook bernama Komunitas Pecinta Puisi
Dan berhasil meraih juara kedua Favorit karena mendapat Like sebanyak 125.
Untuk yang mau ngopy tulisan di harap mencantumkan nama penulis untuk menghargai penulis. Terima kasih.

posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments