Tentang Mimpi

"Izinkan aku bermimpi sekali saja." Reni mengusap kedua belah pipinya yang basah.
Kruk penyangga tubuhnya ia kuatkan.
"Kumohon izinkan aku bermimpi sekali saja." Diulangnya kata-kata itu sekali lagi, dengan suara serak.
Hening. Pemandangan yang ada dihadapannya hanyalah sunyi, senyap. Hamparan perkebunan teh yang hijau kini kelam, ditelan nebula senja.
***
Seminggu lalu, hari Minggu. Awalnya semua baik-baik saja, Reni tetap semangat menghadapi hari-harinya yang indah. Sebagai seorang remaja cantik, smart, pandai, dan gaul. Setiap minggu Reni rutin berangkat kursus Bahasa Inggris yang diadakan sebuah organisasi di kampusnya. Jarak 15 kilometer tempat kursus dari rumahnya Reni tempuh menggunakan motor matic pemberian orangtuanny dua tahun lalu.

Waktu menunjukkan pukul 8.30 pagi, Reni lirik jam dipergelangan tangannya. What? Batinnya terkejut. Kursus akan dimulai lima menit lagi, sedangkan Reni belum siap.
8.15 Reni memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tiba-tiba.....
***
"Reni ingin menjadi Duta Besar..."
"Pegang terus mimpimu, Nak. Jangan pernah lelah berusaha, Tuhan akan memeluk mimpimu."

Reni terdiam, setitik cahaya muncul dikedalaman hatinya. Ia menemukan semangatnya kembali.
***
Batang, 10 November 2011

NB: Ceritanya jelek, ya. Maaf deh, soalnya aku keburu mau berangkat kuliah. Ntar deh aku benerin lagi, sebenarnya cerita itu belum jadi. Tapi, dipaksa jai. Ealah, jadinya makasa. (Jiah, ribet amat, Bo!)
Okay deh, ntar kalo uadah dibenerin ceritanya pasti tambah  nggak bagus.

posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments