Bait Puisi dari Puisi

Aku memang tak lain hanya bait-bait puisi, yang gugur menjadi puisi atau syair-syair tanpa arti.
Ibarat kertas, aku tak henti menanti. Adakah pena yang sudi singgah sebentar, sekedar mengukir satu-dua kata yang hadir dari rlung hati paling curam. Akulah kertas, akulah puisi itu.

Apa lagi yang ingin kucari selain teduh air matamu? Sementara puisi telah lama pucat pasi hilang darah, dari sepersekian jam ia berhenti nafas. Dan aku tak mampu berbuat di luar batas. Sebagai wujud aku terlampau panik, menyikapi kekacauan kata teramat pelik.
Kudengar malam berbisik.

Dan lagi-lagi kutemui puisi di bening matamu.
Kini kutahu, aku tak usah lagi mencari-cari. Sebab musabab puisi muncul kembali.

Batang, 17 Maret 2012

posted under | 0 Comments

Ai: Katakan Padanya.

Katakan!
Katakan padanya, Ai.
Apa saja yang diam-diam masih mengendap di cangkir hias di atas meja.
Ampas kopi yang tampak tipis mengisi.
Bersanding bersama periuk tanpa nasi
Aku acap bimbang, Ai

Ai, tahukah engkau
Di luar sana orang-orang ribut mendebat. Ihwal tampuk kepemimpinan yang pelan hilang. Mengingkari janji-janji. Maka, katakan pada mereka, Ai. Pada dia yang selalu tersenyum bangga. Sebab uangnya telah berjejal mengisi saku, menjadi bantal.
Katakan padanya, Ai.

Ai, selalu saja aku lupa bercerita pada gelas kopi yang hampa itu. Bahwa aku akan selalu menunggu orang-orang bersulang kopi bersama-sama. Meneriaki kedamaian di depan mata. Namun, kapan, Ai? Yang kulihat di televisi orang-orang sibuk menyakiti. Satu-dua saudara mati. Dan yang kuingin, selas kopi hampa itu tak lagi sendiri.
Sungguh, Ai. Masihkah boleh aku menunggu?

17 Mar 2012

posted under | 0 Comments
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments