FF: Lelaki Tua dalam Ingat

FF: Lelaki Tua dalam Ingat*

Setengah jam perjalanan menuju sekolah bus yang kunaiki beramai-ramai bersama teman-teman berhenti. Tampak seorang lelaki tua seumuran kakekku naik. Wajahnya liat, tanpa ekspresi. Aku bergidik ngeri. Wajahnya mengingatkanku pada tokoh psikopat di film-film yang sering aku tonton. Hanya saja ini lebih tua, dan pastinya nggak sekeren di film.

"Aw.."
"Aduuh.."
Tak lama, bus behenti lagi. Kali ini mendadak, terdengar makian panjang pak sopir. Nyaris saja bus yang kami tumpangi kecelakaan. Seorang perempuan paruh baya tiba-tiba menyelonong saja menyebrangi jalan. Kami menghela nafas lega.Apa jadinya kalau tadi bus yang kami tumpangi menabrak perempuan itu? Lalu bus melaju lagi, menyisakan keterkejutan berarti.

Kulirik lelaki tua itu. Matanya menerawang menembus kaca jendela bus yang terbuka. Entah apa yang dipikirkannya. Lagi-lagi terbayang beberapa dugaan tentang lelaki itu. 
Pertama, lelaki itu mantan preman. Lihat saja, lengan kirinya yang kekar terlihat jelas tato bergambar naga.
Kedua, lelaki itu masih preman. Jangan-jangan setelah ini ia mengeluarkan pisau, golok, celurit, atau apa lah dari dalam sakunya. Sejak ia naik bus ini, kuliahat tangan kanannya tak pernah keluar dari sakunya, malah sepertinya ada "sesuatu" yang ia simpan. Bukan apa-apa, hanya saja aku penasaran dengan benda apa yang membikin sakunya gembung dan membuat tangan lelaki itu tak mau keluar dari lubang sakunya. Benda berhargakah? Atau malah benda tajam yang seperti kusebutkan tadi. Entahlah.
Ketiga, lelaki itu orang baik-baik. Dugaan inilah yang membuatku yakin. Ah, sudahlah. Mungkin saja tato naganya ia buat ketika muda dulu. Dan benda dalam sakunya mungkin saja benda berharga. Misalnya puluhan uang receh yang mungkin akan terburai keluar kalau lubang sakunya tidak ditutup dengan telapak tangan kanannya.

Aku beralih pandang. Dari lelaki itu menuju layar HP-ku. Baru saja kuterima SMS dari Rico, teman sekalasku.





Tiba di dekat perempatan Jalan Sudirman, kondektur menarik tarif dari tiap penumpang. Termasuk lelaki tua itu, tapi, ada yang aneh. Bukan uang yang lelaki tua itu keluarkan, justru...
"Permisi, Oom, Tante, maaf mengganggu.."
"aku tak mau kalau aku di madu.."
Dendang lelaki tua itu dengan bekal 'kecrekan' yang dibenturkan dengan telapak tangannya.
Sontak kami semua tergelak. Lalu,
Pletakk!
'Kecrekan' lelaki itu melayang lalu mendarat di kepalaku.

*Tulisan itu aku buat tanggal  4 Oktober 2011 pukul 0:19 ·
Wah, malem banget, ya. Kebiasaanku nulis pas mau tidur. Tapi nggak tahu kenapa sekarang aku jarang nulis.
:(

posted under |

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments