Wanita dalam Potret (Oleh-oleh ikutan POJ)

Minggu lalu, aku dan teman-teman mengikuti sebuah kegian Pekan Orientasi Jurnalistik yang di adakan sebuah UKM jurnalistik dan kepenulisan di kampusku. Nah, pada suatu season materi tantang kesusastraan, seluruh peserta di wajibkan untuk nulis dadakan dan cuma di beri waktu lima belas menit untuk mikir+nyari kertas+pinjem pulpen+nulis+DLL (Plakk! Lebay banget) dan pastinya nggak punya waktu buat celingak-celinguk.
Ya udah deh, kalo pingin tau karya kayak apa yang aku tulis waktu itu. Ini dia, cekidottt!! Tapi ini udah di edit, abis yang itu eror banget sih tulisannya.


Wanita Dalam Potret



Senyum itu tak ubahnya rumah tinggalku
Terabadikan dalam potret usang tanpa nyawa.Tak jarang aku terpekur, kembali kadalam mesin waktu. Mengais serpihan ceriata yang sempat tercecer tentang dirimu dalam ingatanku.
Kau guratkan cerita yang tak pernah usai di lafalkan masa, membawa aroma wangi yang kau kuar. Menyingkap bilik hati.
Lantas bingkai yang membelenggumu ibarat tempat kedua ku rentangkan rindu, meski dapat kusentuh tubuh nyatamu. Tentu selepas kukesah segala gundah dengan-Nya, untuksekedar menanyakan sedang apa kau di sana? Bahagiakah engkau?

Duhai wanita dalam potret, lengkung senyummu jelmakan kelok jalan menuju tempat kemana kau berada. Yang jauh dan tanpa akhir. Kadang kelebat bayang muncul menghilang, hadirkan ilusi kegembiraan. Dan tanpa kau tanya, aku benar-benar telah rela melepasmu kesekian waktu. Karena semua telah terjadi di masa itu.
Kala pagi menyesap malam, menyapa dedaunan, kutemui dirimu dalam rasa. Lantas kusibukkan kembali jiwaku, menatap lekat, pada senyum dalam potret keabadian.

***

Di atas meja kecil.  Bingkai keperakan bermain dengan cahaya, menebar hangat dalam rumahmu yang kini jauh dari pandang.


Kajen, 7 Oktober 2011 diedit pada 16 Oktober 2011
Untuk wanita bermata embun. My beloved grandmother, pengisi masa kemerahan dalam balutan balon warna-warni, masa balita penuh warna. Mungki hanya sekilas. Namun, dalam ketidak pahaman kaki kecilku, aku bisa sedikit peka. Merasakan lembut tanganmu, atau cerita tentang makhluk ajaib yang kau utarakan di awal malamku. Trim grandma. Doaku selalu menyertaimu. :)

posted under | 0 Comments
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments