Suara Karya (Sabtu, 12 Oktober 2013)

Sajak Sol Sepatu kepada Manusia

karena aku hanyalah guntingan yang direkat kenangan di sepatumu
maka aku memilih menetap diombang-ambingkan
keberangkatan dan kepulangan
yang merawat jejakmu di jalan-jalan

barangkali beginilah galur kismat menulisku
dalam kitab-kitab semesta, kemampuan manusia berpikir rasional
atau logika yang menempatkanku pada sisi paling nadir
di mana hasrat tualang senantiasa hadir

karena aku hanyalah sebuah potongan yang menetap di tubuh sepatu
maka izinkanlah aku ikut bersamamu
dalam pengembaraan-pengembaraan yang diwafatkan waktu
dan dinisankan kenangan

2013



posted under | 0 Comments

Haluan Padang, 15 September 2013

RUANG TUNGGU
: Dalasari Pera

sungguh tak ada yang berbeda
pada sebuah ruang tunggu
selain detik di jantung jam yang seketika berdecak monoton
dan beraturan

tak ada detak abnormal yang kau rindukan. seperti atmosfir di bioskop yang meliarkan horor
atau drama picisan

ini ruangan tempatmu menunggu
mengupas hari dan belajar melupakan
mana pagi dan siang, mana senja dan malam
sebab semuanya mungkin akan serba seragam
cemas, bosan
ketakutan, dan keterpaksaan

2013

posted under | 0 Comments

Lokalitas Pekalongan dalam Puisi (Haluan Padang, 8 September 2013)

Megono Mendoan*
1/
mungkin kalian diciptakan untuk menjadi pasangan
melengkapi putih nasi
dan secangkir pekat teh hangat
pada warung
yang menggambari diri dengan lapar dan haus
semuanya menjalar
jadi tatanan piring di atas tikar

2/
cacahan nangka muda dibalur bumbu
disimpan baik pada panci-panci kukus
“biarlah mematangkan diri pada ruang uap terus menerus, lantas memenuhi hasrat paling rakus”

sedang mendoan,
hanyalah tempe tipis
di kembung minyak panas

gurih basah
mengenang nyala kompor yang gelisah

“untuk menikmati setiap gigit mendoan
adalah dengan cara menggunting waktu yang melintang
biarkan tempe tepung mentas setengah matang ....”

3/
megono mendoan
semacam pasangan yang saling mencintai
di dalam biduk sepiring nasi
dan sedap sambal terasi

2013

*makanan khas Pekalongan


posted under | 0 Comments

Puisi-puisi Kurnia Hidayati (Indopos, 7 Juli 2013)


Alhamdulillah, dua buah puisi saya dimuat di Indopos edisi Sabtu, 7 Juli 2013. Selamat membaca. :)


Saat Badai

kita kemudian memilih
untuk saling menentramkan
dan berpegangan
di atas geladak kapal yang diguncangkan
oleh ngeri laut dan ombak
kenestapaan

kita kelasi pengecut nan gagal
meringkuk, memeluk tubuh yang digigilkan nasib di pekat buritan
sembari menebak arah mercusuar
dan mengira-ngira
ke mana arah pulang dan muasal tujuan
atau mencari penjuru untuk sekedar menjatuhkan sauh
sebelum kapal yang kita tumpangi kabur dari ketakutan

maka, beginilah kita di tengah badai
-saling menentramkan dengan santun kata-kata-
meskipun maut kian dekat mengendap-endap
menyamar sekawanan lanun
yang akan merampas nyawa
tiba-tiba

inilah badai! sebenar-benar badai

Juni 2013


Sebelum Tiba Pagi

hari, sebelum tiba pagi aku tak lebih kosong dari sekerat roti basi
di atas meja
yang begitu dingin oleh udara
sedangkan kau tetaplah menjadi bayangan
yang begitu hangus digigit kelam malam

hari, sebelum tiba dini hari
aku masih sekerat roti yang merindu
untuk dicelup dengan secangkir kopi
yang mendidih bersama kepulan asap

2013






posted under | 1 Comments

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI (MINGGU PAGI, 7 JULI 2013)

Alhamdulillah, puisi saya dimuat di Minggu Pagi (KR Grup) pada tanggal 7 Juli 2013. Berikut ini adalah 3 dari 6 puisi yang dimuat di sana. Selamat membaca!

Harusnya Kau Tutup Pintu

harusnya kau tutup pintu sebelum pergi
di suatu malam yang hangus
jelaga

jalanan sudah sepi benar, namun pintu rumahmu
masih terbuka
mengundang kesumat di mata para pria

ah, harusnya kau tutup pintu
agar doa yang payah ibu kumpulkan
juga luka yang beristirahat
tak moksa berlarian

namun, pintu telah kadung terbuka.
ingatan pun sudah lama purna
karena
pada malam hangus jelaga, kau berkeras
menemui seseorang yang tak memendam
kesumat di matanya

7 Februari 2013

Pada Warung Lesehan Pinggir Jalan

kita tiba, di sebuah warung pinggir jalan. aku tak bertanya,
“ke mana lenyap semua kursi?”
ini warung lesehan. di mana aku, kau dan orang-orang harus melipat kaki
dan duduk sambil bersabar menunggu menu pesanan
di atas lembar tikar

jalan raya, seperti biasa
masih tawar-menawar dengan ingar klakson
serta gerung yang menjelmakan kendaraan bermotor,
truk-truk, bis: seperti bunyi gaduh kawanan gergasi
mengundang ngeri di bibir sunyi

kamu, memesan malam. pada gelas yang kausebut cangkir kopi. menyesapnya sesekali sembari menghitung jumlah siluet yang bertabrakan akibat cahaya lampu mobil. mencipta cermin, yang silih berganti.
*
Pada warung lesehan di pinggir jalan. ada rindu yang perlu diisi.
selain malam yang tiba-tiba menetas di gelas, cangkir, panci, atau
kepingan bulan yang ditata di atas piring.

2013


Obituari Ponsel II
: Ayu Listianingrum

kata-kata perihal ponsel itu ibarat bara api yang berkobar
memburu, membakar kalimat-kalimat sesal dan gagal
dari sekian pertemuan yang tak melulu bisa kita gambar-lukiskan
di sebuah siang selepas kesibukan, mencipta diskusi dan persuaan.

mungkin begitulah cara ponsel protes kepadamu. dengan pura-pura mati (atau) memang benar ia ingin diperistri sunyi. dengan membiarkan ia sendiri di altar lemari, dan tak ingin diganggu. meskipun disapa sebentar, sekedar mengecek pulsa, membaca atau mengirim sms, atau bahkan menelepon.

ah, ponsel itu. jelas menggunting lembar-lembar pesan, memblokir percakapan, antara
aku dan dirimu yang selalu ribut berebut ilmu. namun, kali ini sungguh aku serius menulis obituari ponselmu. agar ponselmu yang tengah bercumbu dengan sunyi lekas
tersadar akan tugasnya (membantumu bicara).


jadi, kapan (ponsel) kamu hidup lagi?

2013




posted under | 1 Comments

Puisi Kurnia Hidayati di Web GRUP UNTUK SAHABAT

Pada tanggal 27 Juni 2013, Grup UNTUK SAHABAT melaunching website barunya yang beralamat : www.unsa27.net. Web tersebut selain berisi tentang info menulis juga menerima kiriman karya berupa cerpen, puisi, artikel, resensi, dll. Nah, alhamdulillah pada edisi perdana Puisi saya yang berjudul "di rumah ini, aku bisa menulis di mana saja" menjadi puisi pilihan pertama yang terbit dalam website tersebut. Berikut penggalan puisi saya:

di rumah ini, aku bisa menulis di mana saja

meja
aku menulis rindu di atas meja.  bersama secangkir kopi yang disesap setengah. hampa dan luka kesunyian tiba-tiba mendidih di dalamnya.

jendela
puisi yang kutuliskan untukmu, selalu tentang penantian. aku yang menanti engkau di sisi jendela, sembari meraibkan doa-doa bersahaja
mungkin saja tubuhmu akan nampak dari kejuhan
sebelum pintu kau ketuk bersahut-sahutan
mungkin saja

pintu

aku mencakar-cakar pintu dengan kata-kata. jari-jariku telah kuraut dengan rindu tanpa pertemuan. mungkin kau lupa bahwa ritus perpisahan sejatinya memang perlu dirayakan.
“maka, aku mengizinkan pejal pintu melukai kukuku dengan keras ketiadaan.” lirihku.



....
selengkapnya baca di http://unsa27.net/ atau http://www.unsa27.net/index.php/puisi-cerpen/puisi-unsa/item/51-puisi-pilihan-juni-2013
tapi harus registrasi dulu. Gampang kok! :)

posted under | 0 Comments

Patahan Puisi yang Berserak di Tubuhmu

Patahan Puisi yang Berserak di Tubuhmu
: Jalan Kusuma Bangsa



1/

kukira orang-orang lebih memilih kesunyian
sebagai sesuatu hal yang patut dicita-citakan
daripada kerlap lampu kendaraan, bising klakson
juga umpatan-umpatan yang rapat menyesak di sepanjang jalan


“yang datang beriringan, tanpa mengenal, tapi saling ingin mengakhirkan ...”


katamu, ketika pagi dan sore hinggap di tubuhmu


2/

setiap hujan, mungkin kau seumpama tetua yang menyadarkanku
ihwal seberapa penting menjamu tamu
lihat saja, kau biarkan hujan berlama-lama menetap di tubuhmu
bermain-main di becek comberan, menyentuhi pelataran gedung-gedung
juga tiduran di lantai rumahmu yang beraspal legam -- mengisyaratkan kehidupan terlalu muram


3/


selain kepada hujan, kepada siapa lagi kau bermurah kalbu?
mungkin kepada sampah yang mengubur ingatan tentang seberapa elok
jalan-jalan asri dan membahagiakan, atau kepada gedung-gedung pongah yang menjejalimu
dengan janji-janji
juga kepada liang lahat pohon-pohon yang kau epitafkan dengan kata abai dan tak peduli


tapi, mau sampai kapan kau bersenang-senang
dalam muslihat waktu  dan hujan 
yang lama-lama akan mengajakmu
menemui ketiadaan menyakitkan?


2013


posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers


Recent Comments