PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI (MINGGU PAGI, 7 JULI 2013)

Alhamdulillah, puisi saya dimuat di Minggu Pagi (KR Grup) pada tanggal 7 Juli 2013. Berikut ini adalah 3 dari 6 puisi yang dimuat di sana. Selamat membaca!

Harusnya Kau Tutup Pintu

harusnya kau tutup pintu sebelum pergi
di suatu malam yang hangus
jelaga

jalanan sudah sepi benar, namun pintu rumahmu
masih terbuka
mengundang kesumat di mata para pria

ah, harusnya kau tutup pintu
agar doa yang payah ibu kumpulkan
juga luka yang beristirahat
tak moksa berlarian

namun, pintu telah kadung terbuka.
ingatan pun sudah lama purna
karena
pada malam hangus jelaga, kau berkeras
menemui seseorang yang tak memendam
kesumat di matanya

7 Februari 2013

Pada Warung Lesehan Pinggir Jalan

kita tiba, di sebuah warung pinggir jalan. aku tak bertanya,
“ke mana lenyap semua kursi?”
ini warung lesehan. di mana aku, kau dan orang-orang harus melipat kaki
dan duduk sambil bersabar menunggu menu pesanan
di atas lembar tikar

jalan raya, seperti biasa
masih tawar-menawar dengan ingar klakson
serta gerung yang menjelmakan kendaraan bermotor,
truk-truk, bis: seperti bunyi gaduh kawanan gergasi
mengundang ngeri di bibir sunyi

kamu, memesan malam. pada gelas yang kausebut cangkir kopi. menyesapnya sesekali sembari menghitung jumlah siluet yang bertabrakan akibat cahaya lampu mobil. mencipta cermin, yang silih berganti.
*
Pada warung lesehan di pinggir jalan. ada rindu yang perlu diisi.
selain malam yang tiba-tiba menetas di gelas, cangkir, panci, atau
kepingan bulan yang ditata di atas piring.

2013


Obituari Ponsel II
: Ayu Listianingrum

kata-kata perihal ponsel itu ibarat bara api yang berkobar
memburu, membakar kalimat-kalimat sesal dan gagal
dari sekian pertemuan yang tak melulu bisa kita gambar-lukiskan
di sebuah siang selepas kesibukan, mencipta diskusi dan persuaan.

mungkin begitulah cara ponsel protes kepadamu. dengan pura-pura mati (atau) memang benar ia ingin diperistri sunyi. dengan membiarkan ia sendiri di altar lemari, dan tak ingin diganggu. meskipun disapa sebentar, sekedar mengecek pulsa, membaca atau mengirim sms, atau bahkan menelepon.

ah, ponsel itu. jelas menggunting lembar-lembar pesan, memblokir percakapan, antara
aku dan dirimu yang selalu ribut berebut ilmu. namun, kali ini sungguh aku serius menulis obituari ponselmu. agar ponselmu yang tengah bercumbu dengan sunyi lekas
tersadar akan tugasnya (membantumu bicara).


jadi, kapan (ponsel) kamu hidup lagi?

2013




posted under |

1 komentar:

Dina Kamila mengatakan...

Wah keren sampe masuk koran (y)

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers

Follow by Email


Recent Comments