Suara Merdeka, 28 September 2014



Mengenang Perigi

semenjak timba berhenti terjatuh di permukaan, aku tak lagi bisa mendengar segala bunyi
termasuk bunyi masa kanak tanpa pompa air,  timba condong ke tubuh, mengantar kesegaran mengalir.
 hanya kiambang pucat dan segala kenang. mengambang. menguasai rumah ikan-ikan, serupa rerumputan yang mencegah timba memecah permukaan.

tak ada ingatan sedalam hari ini, terpatri jauh dalam curam dinding perigi.
jemari tanganku hanyalah kesunyian waktu yang membilang hari dalam buku-buku.
tatkala timba bergoyang dalam kekang tali, suaranya berderit ngeri mengikir gigi.
 aku menunggu timba mentas ke atas membawa air, dan menjemputnya lekas.

tapi perigi, tak lagi jernih seperti puisi


2014






posted under , | 0 Comments

Harian Mata Banua, 30 Agustus 2014

 
kepada biji kopi
; Silengis

kepada biji kopi
kutuliskan puisi tentang hutan dan tanah kehitaman
perempuan pemanen berpeluh dan karung-karungnya yang penuh
melingkarkan rindu pada tubuh pohonan
dan cerlang mentari keperak-perakan

biji kopi silengis itu
senantiasa menyimpan riwayat hujan dalam cangkir seduhan

3 Mei 2014



posted under , | 0 Comments

Radar Surabaya, 10 Agustus 2014

PUISI KURNIA HIDAYATI

empat puluh hari

mengunjungi rumahmu, empat puluh hari selepas hari itu
kenangan tak lekas moksa; pucat jasad lelap di keranda
telah melepaskan ingatan tentang sakit dan rintihan
dan namamu, melayang bersama doa

masih terhidu harum balsem.
baju hangat yang telah jadi dingin
tergantung di belakang pintu

aku tercenung
membayangkan. betapa nyeri
rasanya sendiri 
dalam rumah hampa begini

di kamar, ranjangmu merangkum semua rasa
dalam ratusan hari penantian yang sabar
bagai debar angin yang hendak menembus kisi sempit di jendela
sakit itu, sebenar cinta abadi di tubuhmu

empat puluh hari selepas hari itu
lamat-lamat aku mendengar gaung suaramu
seperti desau angin yang melansir ingatan
seperti rintik-rintik syahdu kasidah hujan
tapi entah, datang dari mana

2013




posted under , | 1 Comments

Riau Pos, 20 Juli 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI

kopi lagi

kopi lagi, Brengkolang!
adalah cindera mata di atas meja
sebelum suluh lampu surup ke dalam hangat pagutan tubuh malam

aku dan kopi adalah sengketa
saat malam memajang nestapa
bagai batin kita yang porak poranda
ketika sunyi menghajar dengan siasat dendam
dan kita, memilih mati berkali-kali

kopi lagi, Brengkolang!
sebelum nyala lampu malap dan undur diri
tanpa santun kata dan kecupan bait puisi
ketika pagi tiba
hanya ada timpas cangkir
dan kopi hanya menyisakan gelap dan pahitnya

2014



posted under , | 0 Comments

Ogan Ilir Ekspress, 08 Juli 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


Perempuan Pemanen Kopi

begitu pelan angin itu mengajak ia kembali
kepada pelukan hutan. meskipun cuaca tak lagi karib
manakala hujan gemar terburai ke seluruh desa tiba-tiba
demikian basah.

jalanan menuju kebun hanyalah lumat tanah
menggigiti kaki menggunting waktu berulang kali dan kian menjauhkanmu
dari manis panen biji kopi

perempuan pemanen kopi itu
akan segera tiba di perkebunan
dengan karung-karung kosong
peluhnya berderaian seperti doa-doa hujan
dan harapan yang liar
menelisip di sela pepohonan

2014




posted under , | 0 Comments

PUISI KURNIA HIDAYATI (HARIAN Joglosemar, 6 Juli 2014)

Usai Pengajian di Rumah

ada yang tertinggal di sini
dinding mendingin mengungkung sepi
tikar terlipat dengan seribu satu isyarat
ayat-ayat Qur’an yang syahdu
juga sholawat yang suluk di tiap penjuru

sungguh masih ada yang tersisa di sini
usai pengajian diheningkan
doa-doa masih mengungkung ruang
menggantung di langit-langit
kendati orang-orang telah beranjak pulang

2013

posted under , | 0 Comments

BULETIN JEJAK, Juni 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


Pada Sisa Malam Ini

pada sisa malam ini, langit seperti luka memar di badan
kesunyian ibarat sebuah biduk menepi
di dermaga mata
bagai tempayan persembahan
yang usai melarung buah tangan kehilangan
--- ketiadaan- ketiadaan
yang meraut perih luka di jemari tangan

malam ini menyisakan puisi
doa-doa berjatuhan di lembar buku harian
sebagaimana serbuk hujan yang menggerimiskan murung
di langit-langit kamar

pada sisa malam ini,
kata-kata menumpang di biduk sunyi
yang tersesat menuju dermaganya sendiri
hingga pagi
tersangkut di runcing jarum jam
2013












posted under , | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers


Recent Comments