Kedaulatan Rakyat, 2 Februari 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


doa sungai
sungguh, ini bukanlah harapan sebuah sungai –sungai yang menyimpan ancam dan ketakutan bagi para penambang batu dan pasir, para penghuni bantaran yang menerbitkan senyum getir, juga orang-orang yang asing pada pukat dan kail pancing. ketika kemarau pergi tanpa lambaian dan musim menghadirkan hujan. aku memaksa cadas batu cemburu kepada aliran yang menderas di tubuhku, menyimpankan dendam muara dan meluapkan diri jauh melata ke jalan-jalan.
aku berdoa, semoga hujan enggan lama bertahan.
Batang, 2014

posted under | 0 Comments

Satelit Pos, 12 Januari 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI

Figura
yang bisu dan dipenjara
adalah wajah tiruan
di dalam figura

kenangan dirumahkan
dalam cadas kebekuan
masa lalu jadi bahasa tak terucapkan
tenggelam dalam diam

di meja itu, aku menyaksikan tajam tepi
sebuah figura
menjaga peristiwa di dalamnya
2013

posted under | 0 Comments

Banjarmasin Post, 12 Januari 2014

 PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


tak ada siapa pun yang ingin menemuimu
“tak ada siapa pun yang ingin menemuimu malam ini ....”

bahkan untuk sekedar mengetukkan jemari
di pejal daun pintu
dan memanggil namamu dari nun jauh ruangan
mendekat, memagut tubuhmu

padahal sudah kau mandikan diri dengan keemasan cahaya bulan
dan sejuk air musim penghujan, menebarkan aroma kuncup kembang jambu
yang mewangi membalur tubuhmu
atau wajah merona yang karib pada kelir mawar merah muda
menggoda mata mengantarkan dukana

“tak ada yang ingin menemuimu malam ini ....”
*
mungkin gincu di bibirmu api, yang bersiap membakar cemburu
pada paras dara-dara
sang pencuri cermin wajahmu di kala muda
dan bedak itu tetaplah kesumat dendam yang baka direkatkan
pada sepasang putih pipimu

“tak ada siapa pun yang ingin menemuimu malam ini ....”

usia dan kerut waktu yang lekas berpinak di tubuhmu
mungkin serupa dengan gulungan kertas
yang lama-lama akan dibakar api dari nyala gincumu

2013



posted under | 0 Comments

Suara Karya, 11 Januari 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


Ujungnegoro
maka saputlah namaku di bibir pantaimu nan perawan
sebagaimana kegemaranmu menyeduh jejak kenangan
dermaga merah di tepi memang selalu membaca apa yang diriwayatkan pada legam pasirmu, pada karang dan batu-batu. serupa kenduri atau ritus kedatangan.

di tubuh tebing itu
anak tangga diam-diam merahasiakan jumlah ingatan
suara telapak kaki dan beberapa percakapan mencapai tinggi
berkelindan dengan legenda Gua Aswatama dalam amuk perang Bharatayuda

di kepala tebing, peziarah berdoa
pada petilasan Syekh Maulana Magribi sembari memandang lanskap pantai
membidik perahu dan pemancing dari kejauhan
serta menghitung seberapa lekas keemasan senja karam di garis lautan

maka saputlah nama orang-orang
jika tiba malam
jika matahari surup dan tubuhmu sempurna dipayungi kegelapan
sementara di sudut barat sana Pantai Sigandu senantiasa melambaikan tangan ke arahmu
dan mengucapkan salam

2013

Tidur
: Lugas Duta S

tidur adalah mimpi tertukar
dengan getar ponsel dan kenyal bantal di dalam kamar

kepala memberatkan penat
kantuk yang kandas di mata
seperti sebuah alur cerita

linglung kepada endingnya

2013

Usai Hujan

aku mengenang kemarau, repih bibir, kulit terbakar dan kerontang kerongkongan. payung yang diam di gantungan, boots pelastik berdebu, dan jas parasit bercendawan.

manakala hujan tiba menyalami tangan-tangan cuaca, memeluk sepasang kekasih yang duduk berdua di taman kota, dan mengelus kepala penjaja es keliling yang beku di simpang jalan dan aku mengenang baju-baju yang habis dicuci ibu, disampirkannya di tempat pengeringan itu. mendengar ibu berdoa agar hujan tak turun. sebab baju-baju tak bisa dipakai selagi masih menyimpan air di serat-serat kainnya. ibu, teramat mencintai matahari. maka ketika hujan turun ia hanya mampu mengingat bagaimana pendar keemasannya menyerap air di kain baju.

aku mengenang debu yang hinggap di mata, di lipatan badan, atau di ranah-ranah sekitar rumah: lantai dan sela-sela jendela, kursi dan menebal di bawah meja. usai hujan ini, aku hanya bisa mengenang bagaimana tanah gersang, retakannya yang mengakar telah terisi doa-doa para penanti hujan.

2013
Sunyi Panggung

selebihnya hanya ada papan yang disunggi pada ketinggian tak seberapa
alat musik : drum sepi kehilangan hentakannya, gitar yang ditinggalkan pemetiknya, microphone haru tanpa suara, dan speaker yang tak lagi liar mengantar renjana

spanduk melambaikan pelawa, kesiur angin jadi tangan di tubuhnya
namun panggung itu kian menjelma sunyi, serupa nisan diam yang mengandung tubuh si mati
mengasingkan diri dari fana janji-janji
tak ada celoteh jenaka pembawa acara, sangsai goyang biduan, atau rentetan sambutan menjemukan
sebab hanya ada papan yang disunggi pada ketinggian tak seberapa
beratap seng dan pertunjukan tanpa orang
dan kehilangan penontonnya

2013




posted under | 0 Comments

Pos Bali, 24 November 2013

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI
(Pos Bali, 24 November 2013)


Fragmen Puisi yang Berserak di Tubuhmu
: Jalan Kusuma Bangsa

1/

kukira orang-orang lebih memilih kesunyian sebagai sesuatu hal yang patut dicita-citakan
daripada kerlap lampu di mata kendaraan, bising parau klakson
juga umpatan yang rapat menyesak, berceceran, tumpah di sepanjang jalan

“yang datang beriringan, tanpa mengenal, namun menyimpan dendam. saling ingin mengakhirkan ...”

 bisikmu, manakala kepak sebuah senja hinggap di rata punggungmu

2/
tiap hujan tiba, mungkin kau seumpama tetua yang menyadarkanku ihwal seberapa penting menjamu tamu.
kau membiarkan hujan berlama-lama menginap di tubuhmu.
bermain-main keruh air di becek ceruk comberan, menyentuhi pelataran gedung-gedung.
juga tiduran di lantai rumahmu yang legam – mengisyaratkan betapa fragmen hidup yang gemar berlintasan itu sedemikian muram

3/
selain kepada hujan, kepada siapa lagi kau hendak bermurah kalbu, duhai tubuh jalan?

mungkin kepada sampah yang mengubur ingatan perihal seberapa elok sebuah peta di alur tenteram yang asri membahagiakan, bagai sebuah ranah kehibukan yang mengizinkanmu untuk teguh beristirah sembari membilang jumlah keberangkatan dan sapaan yang dibuhul di runcing rambut rerumputan.
atau kepada gedung-gedung pongah yang menjejalimu
dengan janji-janji.
juga kepada liang lahat pohon yang kau epitafkan dengan kalimat cinta paling abai dan tak peduli


namun, akan sampai kapankah kau ingin bersenang-senang dalam muslihat waktu dan hujan ?

padahal, merekalah yang lama-lama akan mengajakmu
menemui ketiadaan menyakitkan

2013


posted under | 1 Comments

Kumpulan Status Tentang Dermaga

Tentang Dermaga

1/
Kau mungkin tak menyadari bahwa dermaga beku itulah yang setia menantimu. Telinga dan mata diutusnya agar selalu awas pada suara dan lintas keadaan. Meskipun bunyi hanya sekilas tanda, dan kejadian hanyalah sekejap tatap muka. Namun ia -dermaga itu- selalu berharap bahwa yang tiba mendekat sebagai perahu adalah dirimu. Bukan kesunyian, bukan semu pengharapan, dan bukan pula detik yang sia-sia pada waktu menunggu.
2/
Dermaga itu memang tak lagi percaya pada sinar di lampu mercusuar. Sebab baginya, semua pendar tak pernah mengarahkanmu untuk sampai kepadanya. Mungkin kau menyimpan kompas ganda yang jarum-jarumnya menunjuk arah ke mana kau harus berada. Tetapi celakanya kau justru melupakan peta yang harus dibawa dan meninggalkannya tepat di garis samudera.

Katakan! Jika kau tersesat, dermaga itu harus mencarimu ke mana?
3/
Apakah yang di kejauhan itu siluet tubuhmu? Tanya dermaga pada kesiur angin, deburan ombak, dan anomali cuaca di hasyiah samudera. Namun ternyata semua yang nampak hanyalah sebuah tipuan optik untuk mata. Mungkin rindu yang teramat gebu tak bisa ditunaikan selain dengan bertemu. Sementara penantian, pelan-pelan menjadi amuk badai di kedalaman dada.
4/
Desau anginlah suara yang sepadan dengan ratap doa dermaga. Langit menggantung kesunyian, berayun dari hampa ke lengang, dari senyap kepada ketiadaan. Sembari menunggu ia merajut rindunya dari benang-benang tangis yang getas.  "Biar menjadi selendang, jadi penutup bahuku yang mudah terguncang." desisnya. Ketiadaan jadi lanskap yang dekat dengan matanya.

Entah, di manakah waktu menyembunyikanmu, wahai perahu? Kembalilah, jika kau tak ingin melihatnya pergi bersama debur ombak dan kepakan camar. Atau menghilang bersama arus laut yang tak mempunyai akhir dan terus berputar.
Tamat

9 November 2013


posted under | 1 Comments

Suara Karya (Sabtu, 12 Oktober 2013)

Sajak Sol Sepatu kepada Manusia

karena aku hanyalah guntingan yang direkat kenangan di sepatumu
maka aku memilih menetap diombang-ambingkan
keberangkatan dan kepulangan
yang merawat jejakmu di jalan-jalan

barangkali beginilah galur kismat menulisku
dalam kitab-kitab semesta, kemampuan manusia berpikir rasional
atau logika yang menempatkanku pada sisi paling nadir
di mana hasrat tualang senantiasa hadir

karena aku hanyalah sebuah potongan yang menetap di tubuh sepatu
maka izinkanlah aku ikut bersamamu
dalam pengembaraan-pengembaraan yang diwafatkan waktu
dan dinisankan kenangan

2013



posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers


Recent Comments