Puisi Tertinggal

Secara kasat aku mampu melihat, kau dengan sigap berkemas memunguti satu-dua benda untuk kau bawa.
Menuju kota.
Dan hujan masih saja, menyembul lalu jatuh lewat celah awan, menelusur pori-pori tanah membikin basah. Namun, kau tetap saja. Pantang kalah.
"Kau mau kemana? Hari masih hujan.." bisikku tanpa suara.

Kau berbalik, memunggungiku. Setelah berulang kau hitung mana hal yang harus menjadi kawan serta.

"Benar pergi, kau.." 

Kutelusur jalan, mencari jejakmu yang hilang. Sambil membawa carik-carik kertas, karena kau lupa sesuatu.
Puisi ini tertinggal di hatiku..

posted under | 0 Comments

FF Cerita Kita : Melarung Kenangmu*

Melarung Kenangmu
Oleh: Kurnia Hidayati

“Kamu akan pergi?” tanyaku padamu di sebuah senja di bibir pantai.
“Ya, begitulah,” tukasmu cepat.
Aku tersenyum pahit. Ternyata kedatanganmu ke Semarang bukan untuk menemuiku. Namun kau akan berpamitan untuk mengejar impianmu bersekolah ke Belanda.
***
            Kau adalah gadis lincah nan ceria. Aku ingat ketika pertama kali kita bertemu, kau tak lain hanya gadis kecil berkepang dua berumur delapan tahun. Yang sesekali mengelus perahu dari kertas hasil buatanmu sendiri. Meskipun perahu kertasmu tak berumur panjang, terkoyak sesuatu karena kau tak hati-hati menyimpannya. Lalu kau akan membuat lagi dan lagi.
            Kau rajin bertandang kerumahku. Ibumu dan ibuku sahabat karib sejak kecil. Karena itu, bukan tidak mungkin kau dan aku menjadi karib hingga dewasa. Bahkan ketika kau dan keluargamu memutuskan untuk pindah ke Bandung.
            ***
“Mas, aku boleh minta tolong nggak?” tanyamu memecah keheningan. Mentari mulai hilang. Tak terasa sudah sekitar dua jam kita berdiam disini, di bibir pantai favorit kita waktu remaja.
“Apa, Ann?” Kutatap manik matamu.
“Mas tolong terusin buat perahu kertasku dong. Masih kurang 500 perahu lagi biar jadi lima ribu perahu,” pintamu.
“Lho, Ann. Kamu masih suka buat perahu kertas?” Aku terkejut, kukira kau telah berhenti membuat perahu kertas bodoh yang sering mengundang cemoohan teman-temanmu ketika kau lulus SMP. Ternyata aku salah, kau masih saja setia membuatnya. Satu, dua, sampai ribuan demi sebuah janji konyol masa lalumu.

“Iya, Mas. Kan aku udah janji kalau aku bakalan buat perahu kertas sampai Papa pulang.” Raut ceria seketika menghilang dari wajahmu. Kau menggigit bibirmu, menahan air mata yang akan segera membuncah. Namun, sesaat kemudian bendungan matamu jebol. Dan kau mulai terisak.
“Udah, jangan nangis. Iya, deh. Mas Yasul janji,” jawabku sambil mengusap punggungmu.
Langit memerah. Kupilin janjiku menuju langit jingga.
***
Sepuluh tahun yang lalu. Kau sembilan tahun dan aku sebelas tahun.
            Sungguh hari itu adalah hari paling kelam. Mendung diam, namun rinai gerimis muncul di mana-mana. Terutama di ruang tengah rumahmu. Kulihat pula hujan deras turun di mata Tante Vita, ibumu. Sembari mendekap foto Papamu yang  berbingkai kayu, sesekali ia mengelus kepalamu. Sementara kau masih asyik melipat kertas warna-warni menjadi perahu-perahu kertas meskipun satu-dua pelayat datang, mengantar tanda duka cita. Kau belum paham apa yang sebenarnya terjadi.

“Papa bilang, kalau Papa pulang Anna mau diajak ke pantai. Biar perahu-perahu kertas Anna berlayar, makanya Anna bikin perahu terus....”
Aku ingat, kata-kata polosmu. Namun sayang, Papamu tak akan pernah pulang. Ia tewas dalam kecelakaan kapal ketika bertugas di Papua. Kebiasaanmu membuat perahu kertas mengundang iba juga air mata siapa saja.
            Ketika kau beranjak remaja, kau telah paham arti sebuah kematian. Namun kau tetap saja membuat perahu kertas untuk Papamu. Kau bilang perahu kertas buatanmu itu sangat istimewa. Sebab perahumu berhias baris-baris doa di setiap lipatannya.
***
Satu bulan sejak kepergianmu.
Kubawa ribuan perahu-perahu kertas yang telah usai kubuat ke bibir pantai. Satu demi satu kularung perahu warna-warni ini sambil sesekali menyeka air mata. Kecelakaan pesawat telah merenggutmu dari mimpi-mimpimu. Namun setidaknya, kau telah benar-benar pulang, menyusul Papamu yang sangat kau rindukan.
Aku telah menepati janjiku.
***
Batang, 19 Jan 2012

*Cerita ini kalah dalam lomba kepenulisan FF Cerita Kita

posted under | 1 Comments

Pada Kerlip Lilin

Pada Kerlip Lilin*
Oleh: Kurnia Hidayati

1/
Pada kerlip lilin, kita sibuk berkhayal
Tentang sebuah istana dari cahaya
Ada asa tertinggal di nun jauh, pada hari ribuan jam lalu
Namun, kau tetap abai.
Berlanjut cerita tentang putri-putri pelangi dan hal-hal musykil lainnya
Aku hanya diam

2/ 
Sengaja kuhembus lilin itu perlahan
Merelakan nyalanya meliuk kesegala arah, agar gundahmu sedikit saja tak terlalu jelas
Oleh mataku yang awas
Kuyakin sinarnya pelan remang, dimakan masa habislah nyala

3/
Oh, apa sebenarnya yang ingin kau ungkap?
Sedangkan lilin tetap memainkan bayanganmu
Sementara cerita berganti, menjadi lagu juga larik puisi
Mengenai hujan, mengenai gerimis yang kadang tak mau pergi
Membunuh lampu-lampu

4/
Malam menebal, cahaya sebenarnya tak ada tanda
Cerita berganti menjadi doa-doa sederhana
Maka kau mengajariku berpikir terang
Membimbingku menuju menemui pagi melalui tangga mimpi
Meski kutahu, semuanya terlampau petang, Ibu.

Kulihat lilin itu, ia telah padam.

Batang, 21 Januari 2012 

*puisi yang menang lomba puisi UNGKAP diselenggarakan oeh grup UNSA.

posted under | 0 Comments

Para Pemecah Batu

Batu adalah berlian di tanganmu
Lantas mengapa ingin kau pecah?


Kini aku paham, mengapa air matamu tak lagi ingin tumpah ketika
Palu godam dalam genggam menyentuh batu hitam, lalu terpecah!!

Batang, 5 Des 2011

posted under | 0 Comments

Kau Adalah Hujan

Aku mengingatmu sebagai
Gugur air yang turun menjelma hujan
Atau memang kau hujan
Bukan, kau embun
Entah sudahlah...


Di sebuah simpang kau menjelma seseorang yang duduk terdiam tanpa pandang
Di tanganmu kau gengam kaleng usang berhias korosi disana-sini
Ya, kau adalah hujan


Senyummu adalah harga mati
Tersebab rengekmu adalah nilai sebenarnya
Untuk receh, untuk rupiah


Ah, kau memang benar-benar hujan rupanya
Hingga tak cukup kubuka payung untuk menghalau derasmu
Aku telah basah

Batang, 5 Des 2011

posted under | 0 Comments

Keep Raining!!

Seperti biasa, gue dateng kesini buat ngeluh. Selain diluar cuaca lagi nggak berpatner, suasananya juga ngedukung banget buat curhat-curhatan gitu. Yup, lupakan saja lah. Gue  disini cuma mau nginget-inget aja kalo gue masih utang satu puisi sama kak AD Rusmianto. Seseorang yang udah benerin FB gue yang kena hack. Hero!

Dan....
Masih ada hal yang nyesek juga, soalnya gua nggak punya secuil puisi pun buat disumbangin ke Kak Awi. Huaaaaaah, kasihan banget kan gue..


Gue harap nggak ada yang baca tulisan ini.
Glek!

posted under | 0 Comments

It's Time To Mellow

Waaaaaaaa
Gaya banget nulisnya mau melow-melowan. Susah juga ternyata nulis mellow. Enakan curhatan (baca: gila-gilaan).

Oke deh gue coba.

Gerimis turun satu-dua meluruh atas titah pemilik langit




Susaaaaah. Udah ah.

posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers


Recent Comments