PUISI KURNIA HIDAYATI (Solopos, 14 April 2014)

Saat Gelap

kegelapan menghadirkan tanya sepasang lampu

ruangan sunyi hanya ada kau dan sepotong malam

bulan lindap di balik jendela

selebihnya, cahaya lilin menduga kemana arah cahaya



jika di luar deras hujan

tajam menghunus perasaan

dan gigil menusuk kulit diam-diam

kesunyian akan memamerkan kegelapan

seperti teka-teki

tentang jodoh dan mati



dan kerlip lilin meliukaan luka ganda

luka sengat tubuhnya dan luka hitam bayangan tangan

yang dibuat-buat jadi sebentuk tubuh hewan

lalu kita saling bercerita

melupakan kematian lampu

dan waktu yang pelan membeku

Batang, 2013


posted under , | 0 Comments

Metro Riau, 23 Maret 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


Kado
; ryn
dan aku membawa maaf untukmu dik. sebagai kado ulang usia. angka tahun yang berlompatan di pematang almanak-almanak terbakar, menjadi abu selepas diberangus api musim dan tanggal kelahiran.

kesenangan adalah kepedihan yang menyamar
ibarat runcing duri pada anggun bunga mawar

doa membumbungke udara, sementara kau riang mengoleksi umur dan bilangan. berdendang,  lantas memajangnya, di dinding kamar bagai menyimpan foto tanpa figura dengan garis senyuman di dalamnya.

maka, aku pun memilih membisu, membiarkanmu berdekapan dengan umur-umur
biarlah, semoga pelan-pelan engkau paham
bahwa kehidupan tak melulu menyimpan kepedihan dan kesenangan
yang datang beriringan

selamat ulang tahun
2013

posted under | 0 Comments

Suara NTB, 22 Maret 2014

Puisi-puisi Kurnia Hidayati

Pecinta Malam

: Fina Lanahdiana

adakah kau dengar
aubade dengkur yang telah disusun orang-orang?
jika telinga telah kau sumpal dengan puisi dan sulur inspirasi yang kian menjauhkan
jalanmu menuju mimpi

kau penelusur malam berapologi insomnia
mendaki di licin kesunyian, meniti setapak jalan perkiraan
menerka-nerka, adakah yang sembunyi di balik bantal yang dingin itu puisi sehangat kopi?

mungkin beginikah caramu mencintai malam
dengan duduk menjauh dari tilam
bantal, biarlah menggigilkan selimut yang terlipat
sementara kamu, masih tegap duduk dan menyusun mimpi tentang keheningan

dan pesan-pesanmu di ponsel itulah
yang merekam bagaimana caramu bicara
kepada malam yang membindamkan pagi

2013


posted under | 0 Comments

Majalah Sastra Kalimas edisi Januari-Februari 2014


posted under | 0 Comments

Jawa Pos, 16 Maret 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI

Kepada Rantansari*
1/
jika ternyata cinta telah rekat di debarmu
maka pertahankanlah ia
--laki-laki bernama Bahurekso --  
sebagaimana ia bertahan dalam kenestapaan
sebagai abdi yang taat dan bakti pada titah Sultan
tak pernah merintih dan sambat, kendati telah dibendungnya Kali Sambong
dan didedahnya rimba Gambiran
merawat perih dalam perkelahian dan ngilu di pertapaan
2/
maka berkeraslah, kau Rantansari!
jadilah persembahan yang durhaka
sebelum hari pinangan dengan Sultan terlaksana
kau, bukan boneka dalam diorama
kau, mesti memilih kemana biduk cintamu mendekat dan tertambat
pikirlah matang-matang, Rantansari
sebelum Sultan mengirim utusan
dan membawamu pergi
Batang, 2013

keterangan : puisi tentang Rantansari, Bahurekso, dan Endang Wuranti diambil dari kisah babat tanah Pekalongan.



posted under | 0 Comments

Riau Pos, 2 Maret 2014




PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI

Luka Sebuah Diorama
air mata siapakah yang membasuh tubuh boneka di sebuah kotak mika
yang dipajang di etalase sebuah toko cinderamata itu?

tangis itu tercipta dari dua pasang mata diorama
manakala ia musti berpura-pura tersusun rapi dan serasi, menyamar dua boneka jadi sepasang pria-wanita tersenyum bahagia
di tengah taman bunga
dan berbaju sepasang pengantin

tanpa ada seorang pun tahu bahwa ia sungguh luka

orang-orang hanya berlintasan, mengantarkan kepergian. ia terdiam seperti menunggu tangan-tangan yang meminang sebagai cindera mata, sebuah kepulangan mengajaknya kabur dari etalase kaca
dan segala kepalsuan
**
ia, diorama yang mengungkung sepasang mempelai boneka
wanita dan pria yang tersenyum bahagia di tengah taman bunga
barangkali akan selalu memeluk luka
hingga tiba seseorang mengajaknya pergi
dan memilikinya

2013 

posted under | 0 Comments

Kedaulatan Rakyat, 2 Februari 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


doa sungai
sungguh, ini bukanlah harapan sebuah sungai –sungai yang menyimpan ancam dan ketakutan bagi para penambang batu dan pasir, para penghuni bantaran yang menerbitkan senyum getir, juga orang-orang yang asing pada pukat dan kail pancing. ketika kemarau pergi tanpa lambaian dan musim menghadirkan hujan. aku memaksa cadas batu cemburu kepada aliran yang menderas di tubuhku, menyimpankan dendam muara dan meluapkan diri jauh melata ke jalan-jalan.
aku berdoa, semoga hujan enggan lama bertahan.
Batang, 2014

posted under | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers


Recent Comments