Riau Pos, 20 Juli 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI

kopi lagi

kopi lagi, Brengkolang!
adalah cindera mata di atas meja
sebelum suluh lampu surup ke dalam hangat pagutan tubuh malam

aku dan kopi adalah sengketa
saat malam memajang nestapa
bagai batin kita yang porak poranda
ketika sunyi menghajar dengan siasat dendam
dan kita, memilih mati berkali-kali

kopi lagi, Brengkolang!
sebelum nyala lampu malap dan undur diri
tanpa santun kata dan kecupan bait puisi
ketika pagi tiba
hanya ada timpas cangkir
dan kopi hanya menyisakan gelap dan pahitnya

2014



posted under , | 0 Comments

Ogan Ilir Ekspress, 08 Juli 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


Perempuan Pemanen Kopi

begitu pelan angin itu mengajak ia kembali
kepada pelukan hutan. meskipun cuaca tak lagi karib
manakala hujan gemar terburai ke seluruh desa tiba-tiba
demikian basah.

jalanan menuju kebun hanyalah lumat tanah
menggigiti kaki menggunting waktu berulang kali dan kian menjauhkanmu
dari manis panen biji kopi

perempuan pemanen kopi itu
akan segera tiba di perkebunan
dengan karung-karung kosong
peluhnya berderaian seperti doa-doa hujan
dan harapan yang liar
menelisip di sela pepohonan

2014




posted under , | 0 Comments

PUISI KURNIA HIDAYATI (HARIAN Joglosemar, 6 Juli 2014)

Usai Pengajian di Rumah

ada yang tertinggal di sini
dinding mendingin mengungkung sepi
tikar terlipat dengan seribu satu isyarat
ayat-ayat Qur’an yang syahdu
juga sholawat yang suluk di tiap penjuru

sungguh masih ada yang tersisa di sini
usai pengajian diheningkan
doa-doa masih mengungkung ruang
menggantung di langit-langit
kendati orang-orang telah beranjak pulang

2013

posted under , | 0 Comments

BULETIN JEJAK, Juni 2014

PUISI-PUISI KURNIA HIDAYATI


Pada Sisa Malam Ini

pada sisa malam ini, langit seperti luka memar di badan
kesunyian ibarat sebuah biduk menepi
di dermaga mata
bagai tempayan persembahan
yang usai melarung buah tangan kehilangan
--- ketiadaan- ketiadaan
yang meraut perih luka di jemari tangan

malam ini menyisakan puisi
doa-doa berjatuhan di lembar buku harian
sebagaimana serbuk hujan yang menggerimiskan murung
di langit-langit kamar

pada sisa malam ini,
kata-kata menumpang di biduk sunyi
yang tersesat menuju dermaganya sendiri
hingga pagi
tersangkut di runcing jarum jam
2013












posted under , | 0 Comments

#tantanganmenulis INTERLUDE : Lirik Lagu untuk Hanna "Lagu Untukmu"


Aku nggak pernah bikin lirik lagu sebelumnya. Tapi, apa salahnya mencoba. :) Lirik lagu ini kupersembahkan untuk Hana (Tokoh dalam novel INTERLUDE-nya Kak Windry Ramadhina). 


Selamat membaca, semoga berkenan! :)



Lagu Untukmu

Hana, sepotong hatiku adalah dirimu
Hana, sebersit pikirku selalu hadirkan senyummu
bersama lirik dan partitur sunyi
aku mengantarkan rindu paling puisi

Pre- Chorus
meski kau selalu berpaling
kepada penjuru berbeda
tatkala kita bertemu muka
namun cinta itu, Hana, tak akan pernah tiada

Chorus:
biarkan aku meraih tanganmu
menggenggam rasa , meyakinkanmu
biarkan aku mengecup keningmu
membisikkan cinta, membuatmu percaya

biarkan aku terus mendambamu
menghapus luka dari senyummu
biarkan aku selalu menjagamu
memelukmu dengan sepenuh cintaku

**
Hana, percayalah cinta sejati selalu ada
Hana, lupakanlah semua masa lalu penuh luka
Oh Hana, lagu ini tiba sebagai penghibur hati
Jangan menangis, sebab aku selalu di sini

Pre-Chorus

Back to Chorus

posted under | 0 Comments

Media Indonesia (18 Mei 2014)

Tapa Kalong*
i.
beginilah rupa pendadaran kedua sebelum mendedah rimba gambiran. usai terlampaui potongan peristiwa kegagalan Tapa Kidang.
yang sungsang dalam tidur panjang adalah Jaka Bahu.
kepala diutusnya jadi kaki yang menggantung di ranting pohon tinggi
menyaru seekor kalong dalam tidur
yang ditukar-tukar waktu.

maka empat puluh hari
ia lewatkan siang dalam pejam.
sementara matanya terjaga dalam malam-malam bindam.
“beginilah cara melupakan kegagalan selepas Tapa Kidang
menabung kesaktian
merangkum jurus.
Akan kurebut tahta Raja Siluman atas rimba Gambiran.” ucapnya dalam diam.

ii.
Jaka Bahu berangkat
dengan busung dada sarat kesumat
membawa azimat dalam pertapaan keramat
kepalanya panas membara
seperti api
“akan kuhajar Raja Siluman
kubunuh ia.
Sebagaimana ia membunuh waktu para pedagang dan petualang.
membikin wingit rimba Gambiran.
tak akan ada lagi perjalanan panjang yang tersesat dalam arus putaran hutan!” sinis Jaka Bahu

“terimalah hunus pedang
sebagai cindera mata sebelum pulang.
dan ingatan tentang perkelahian
akan hangus dalam bara kemarahan!
sungguh kebencian ini teramat hitam!” geramnya.
2013
keterangan : *Tapa Kalong, cerita yang diambil dari babad Pekalongan. Konon tempat dimana Joko Bahu melakukan tapa kalong itu kini disebut PEKALONGAN.





Kurnia Hidayati lahir di Batang, Jawa Tengah, 1 Juni 1992. Saat ini tercatat sebagai mahasiswi jurusan Tarbiyah di STAIN Pekalongan dan bergiat di LPM Al-mizan. Tulisannya pernah dimuat di Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Indopos, Riau Pos, Suara Karya, Banjarmasin Pos, Pos Bali, Bandung Ekspress, Majalah Sastra Kalimas, Minggu Pagi, Haluan Padang,  Suara NTB, Metro Riau, dan lain-lain. Serta tergabung di beberapa antologi, di antaranya: Setia Tanpa Jeda, Mimpi Seribu Kemenangan, Napas Dalam Kata, Romansa Telaga Senja, dsb.



posted under , | 3 Comments

PUISI KURNIA HIDAYATI (Solopos, 14 April 2014)

Saat Gelap

kegelapan menghadirkan tanya sepasang lampu

ruangan sunyi hanya ada kau dan sepotong malam

bulan lindap di balik jendela

selebihnya, cahaya lilin menduga kemana arah cahaya



jika di luar deras hujan

tajam menghunus perasaan

dan gigil menusuk kulit diam-diam

kesunyian akan memamerkan kegelapan

seperti teka-teki

tentang jodoh dan mati



dan kerlip lilin meliukaan luka ganda

luka sengat tubuhnya dan luka hitam bayangan tangan

yang dibuat-buat jadi sebentuk tubuh hewan

lalu kita saling bercerita

melupakan kematian lampu

dan waktu yang pelan membeku

Batang, 2013


posted under , | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Diberdayakan oleh Blogger.

Tulisan-tulisan

Followers


Recent Comments